Tak terhitung banyaknya malam yang ia hitung dengan jemari kurusnya di kamar isolasi sempit yang berbau obat.
Untuk apa ia disana? Jangan tanyakan itu padanya. Pertanyaan itu berumur sama dengan lamanya ia disana. Jawban yang bisa diberikannya hanya tatapan kosong dan kepala yang menggeleng. Hanya itu.
“Aku pikir dia bisu.”
“Aku belum pernah mendengar suaranya. Dia yang paling aneh.”
“Ya. Tak pernah berontak untuk minum obat atau disuntik. Tak pernah,”
Bisik-bisik seperti ini selalu didengarnya, dari dua wanita yang rutin memasuki kamarnya, memberi bermacam pil dan makanan. Mereka kadang mengajaknya bicara, getol pada hari-hari awal dan menyerah pada akhirnya.
Ia seperti ditinggalkan suaranya. Seperti mimpi yang meninggalkannya. Seperti hidup yang perlahan-lahan menjauh, menyeretnya dalam kesunyian, sepi, yang entah bagaimana justru membuatnya nyaman. Semakin menenggelamkan diri dalam sel persegi berbau obat, diam dan hanya melempar pandang kosong pada apapun yang ditatapnya.
Tidak, tidak. Aku tidk bisu. Suara yang meninggalkanku. Aku berusaha meraihnya, tapi dalam sel kotak ini, dariman aku mendapatkannya? Darimana aku mendapat mimpiku? Kenapa aku disini? Tak ada yang kukenal disini. Mereka-mereka yang berlalu lalang seperti memakai topeng. Apa pedulinya mereka? Menanyakan bagaimana keadaanku, apa pentingnya buat mereka? Dan aku hanya akan diam disini. Sampai suara mendatangiku.
Dan begitulah ia. Mematung. Patung yang bernapas. Kasak-kusuk yang lebih kejam berkata oksigen yang dihirupnya akan jauh lebih bermanfaat bila dihirup orang lain.
Aku terluka. Terbunuh oleh masa lalu dan kesunyian. Jiwaku mati. Aku tak sanggup bermimpi. Tak sanggup berpijak tanah, bertemu matahari dan disapa angin. Aku mati. Mati.
Sampai hari ini.
Tersentak dari tidurnya yang sebentar. Suaranya mendadak kembali. Dan jerit-jeritnya memenuhi lorong, membuat dokter jaga berdatangan. Di kamar isolasi itu, ia bergerak kesetanan. Berteria-teriak tak jelas. Dua dokter memegangi lengannya.
“Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku!” ia lemas beberapa saat. Kemudian ia menggila lagi. “Biar! Biarkan aku! Biarkan aku!”
Dokter mengendurkan pegangannya. “Biarkan aku!”
Ia lemas lagi. Diam mematung, tak berontak walau dokter sudah melepaskannya. “Biarkan aku…” bisiknya. “Menangis.” Dokter terdiam. Dan mengalirlah sisa malam itu. Ia menjerit, menangisi sisa hidupnya.
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Kamis, 21 April 2011
Jumat, 03 September 2010
si manis
Sesiangan itu,sepulang sekolah, Niz melajukan motornya dengan kalut. Soalnya, dia belum menemukan adiknya, si Lili. Kata temen-temen sekelasnya sih, Lili udah pulang. Tapi mana? Biasanya Lili kalo pulang sebelum Niz pulang, pasti dia lagi asyik jongkok sambil meringis, nyender di dinding depan kelas Niz. Anak itu biar udah gede suka takut pulang sendirian. Alasannya, kalo ada tukang ojek gratis, ngapain bayar angkot?
Sebenarnya sih, Niz nggak pusing-pusing amat kalo si Lili ngilang. Bagus malah, nggak ada anak bawel yang hobinya ngeganggu Niz yang lagi asyik belajar matematika. Tapi yang nyebelin kalo Lili nggak duduk di jok motor ketika Niz pulang sekolah, adalah omelan panjang lebarnya Ibu. “Kamu itu! Gimana kalo Lili dijadiin umpan genderuwo? Kamu sebagai kakak harusnya bisa dong, jagain adek kamu. Jangan egois, mentang-mentang pulang duluan, adekmu ditinggal!” Niz suka sebel kalo dituduh sebagai kakak yang nggak bertanggung jawab. Lebih sebel lagi kalo habis mendengar ceramah Ibu tentang bagaimana manjadi kakak yang baik, Lili-nya tiba-tiba muncul dengan cengiran sok nggak bersalah. Langsung deh anak itu dapat kado manis, dijitak kuat-kuat sama Niz!
Sampai sore menjelang, Lili belum muncul di rumah. Niz jadi sebel. Ibunya juga cemas nungguin si Lili. Takut terjadi apa-apa sama anak ajaib itu. Pernah, Lili pulang dengan kepala benjol. Ketika ditanyain, Lili jawab sambil nyengir, “Anu, tadi abis berantem sama anak TK!”
“Assalamu’alaikum!” seru Lili riang di pintu rumah. Meooongg…
“Nah, Pus! Nih rumah kamu sekarang…” sementara kucing di gendongan Lili langsung diturunkan paksa, dan tuh kucing dengan nalurinya langsung menjelajah suasana baru.
“Lili! Dari mana aja kamuuuu…sesorean ini baru pulang?” omel Niz yang muncul tiba-tiba disertai asap putih. Biar berkesan misterius, gitu…
“Belajar di rumah Susi!”
Kucing Lili tanpa diduga malah mengitari kedua kaki Niz, dengan manja.
“Idiiih…Lili! Kucing siapa ini…??” Niz langsung mengibaskan kakinya, mengusir kucing manis itu. “Keluar, ih!”
“Eh jangan! Ini kucing Lili!” Lili meraih kucing itu. “Namanya Andromeda,” ujar Lili. “karena bukan kucing Bali. Kalo kucing Bali, namanya jadi Andro-made!”
“ Bawa keluar…!!” bentak Niz, yang sekarang hinggap di sofa ruang tamu, demi menghindari si kucing gemuk itu.
“Nggak!” balas Lili, lebih nyolot dari bentakan Niz.
“Bawa keluar! Kamu kan tau, aku nggak suka kucing!”
“Ah, bohong! Buktinya dikamarmu ada boneka Garfield!”
“Itu kan boneka! Ini kucing asli…ih, bawa keluar dooongg!!”
“Enak aja! Kasiaaan, tauuukkk!” Lili dengan nyolot mempertahankan kucing itu dalam gendongannya.
“Apaan sih? Lili, darimana kamu?” ujar Ibu yang demi mendengar pertengkaran kakak adik itu langsung muncul dari dapur.
“Tadi Lili belajar di rumah Susi, Bu!” lapor Lili.
“Lain kali kalo mau belajar pas pulang sekolah, kasih tau kakakmu dulu,”
“Pulsa Lili abis, Bu! Beliin doong…” Lili malah merajuk.
“Nggak! Jatah pulsa kamu ya segitu aja. Kalo abis, tanggungjawab sendiri.”
Lili merengut. Sedangkan Niz menunjuk-nunjuk kucing dalam gendongan Lili.
“Bu, Lili bawa oleh-oleh tuh! Kuciiing…usir keluar dong!”
“Kucing darimana, Li?” Ibu mengambil kucing gemuk nan manis itu dari gendongan Lili.
“Tadi, di rumah Susi. Kan banyak kucing yang berkeliaran nggak jelas luntang lantung gitu, yaudah Lili ambil satu aja. Si Susi-nya malah ngamuk-ngamuk. Heran deh.” Jelas Lili. “Boleh piara kan, Bu?”
“Hmmm, lucu juga. Boleh. Asal jangan nakal. Udah ah, Ibu ke dapur dulu.”
Lili ikut ke dalam dapur. Sebelum benar-benar meninggalkan ruang tamu, Lili sempat menjulurkan lidah tanda kemenangan ke arahnya. “Weee…!!!” dan si Andromeda ngikut langkah Lili, dengan pandangan angkuh layaknya seekor kucing.
Singkatnya (abisnya males nulis…hihihi) beberapa hari si kucing itu jadi piaraan resmi keluarga Niz. Bapaknya nggak ngelarang, apalagi Ibunya yang mengiyakan saja kemauan si anak manja, Lili. Sedangkan buat si kucing itu, seluruh rumah adalah zona bermainnya, kecuali kamar Niz dan ruang manapun yang sedang Niz kuasai.
Lama-lama si Andromeda itu nggak gitu-gitu menakutkan juga bagi Niz. Dia mulai merasa nyaman dengan kehadiran kucing gemuk itu. Bahkan kalau Andromeda nyelonong masuk ke kamar Niz, dibiarin aja tuh sama Niz.
Sesiangan itu, Niz lagi asyik-asyik ngelus bulu Andromeda yang ternyata halus banget.
“Euh, kalo tau semua kucing itu manis kayak kamu, nggak bakalan deh saya benci sampe nyaris phobia sama sodara-sodara kamu itu!” gumam Niz sambil masih asyik ngelus bagian punggung kucing itu. Andromeda jadi keenakan, matanya merem melek. Dengan manjanya, kucing itu bangkit dan asyik tiduran di pangkuan Niz. Niz kegelian sendiri sama tingkah kucing itu. Niz ingin menggendongnya, tapi tampaknya harus berpikir dua kali. Siapa tau si kucing berontak dan mencakar?
“Naaa…ketahuan…!! Niz sayang kan sama si Pus? Hayoo, ngaku…?? Dulu aja tereak-tereak minta dibawa keluar si Andromeda, sekarang eh sekarang malah asyik mangku…?? Yeee…tanaman makan pagar!” celoteh Lili yang bawel itu. Dia muncul dari depan, mulutnya celemotan cokelat dan tangan kanannya menggenggam sebatang cokelat yang hampir lumer, tangannya sampai kotor. Bahkan sampe bajunya pun kena bercak cokelat. Heran. Tuh anak sampe gede begini tetep aja kayak anak kecil.
Niz jadi tengsin. Cepet-cepet dipindahkannya si Andromeda.
“Apaan sih? Orang kucing kamu yang dateng-dateng minta dipangku!” Niz berkelit. Kan tengsin ketahuan suka sama kucing di depan adiknya yang bawel.
“Ngakuuu ajaaa…” Lili dengan riang berlarian ke dapur. Sibuk mengaduk-aduk isi kulkas, mencari air dingin.
Malamnya Niz lagi asyik memahami buku komik punya si Lili di meja belajar. Sedangkan si Andromeda dibiarkan bertengger manis di kasur.
Merasa lapar, Niz keluar kamar dan dengan ributnya berteriak minta makan. Heuh, kayak dimana aja si Niz ini. Persis mbak-mbak hutan wisata yang hobi gelayutan dari pohon ke pohon.
Puas mengisi perut dengan suguhan sayur asem plus ikan asin dan sambal yang asli bikin perut Niz jadi murus-murus dan cukup 2 kali bolak-balik kamar mandi, Niz kembali ke kamarnya. Melanjutkan baca-baca komik punya si Lili itu. Sedang Lili sedang heboh di kamarnya, mencari-cari buku komiknya yang baru kemarin dibeli. Tapi Niz nggak peduli. Toh Lili sering ngambil buku pe-er bahasa Inggrisnya diam-diam kok. Bukaan, bukan buat diisi atau apa. Lili bukan tipe adik yang peduli sama kesulitan Niz yang satu ini. Tapi buat dikomentarin tuh, nilai-nilai Niz di buku itu. Kalo nilainya bagus, ditulisin gini, “nyontek dari mane lu Niz?”, kalo nilainya jeblog dikasih komentar gini, “aaah, Niz, payah lu. Masa udah nyontek tetep kayak gini nilainya? Makanya kalo cari tempat contekan yang qualified dikit dong!”.
Selagi tenggelam dalam serunya cerita petualangan geng motor yang asli bikin terharu karena ternyata tokohnya menjunjung nilai-nilai Pancasila, Niz merasa ada wewangian aneh di kamarnya. Pikirannya langsung tertuju pada adik semata wayangnya. Niz mikir kalo si Lili sedang bikin sajen buat ngusir nyamuk yang usil bikin sarang di kamarnya.
Niz merasa nggak enak dengan wewangian yang tidak termasuk dalam kategori aroma terapi itu, jadinya makhluk itu keluar kamar lagi. Baru hendak mencapai pintu kamar yang terbuka, Niz melihat cairan kekuningan, dan matanya dengan tajam setajam silat, langsung mencari si Andromeda, yang tidak terlihat lagi di kamarnya. Jeritan Niz pun langsung melengking.
“LILI!!! KUCING LO TUH! BAWA KELUAAARRRR…!!!”
Sebenarnya sih, Niz nggak pusing-pusing amat kalo si Lili ngilang. Bagus malah, nggak ada anak bawel yang hobinya ngeganggu Niz yang lagi asyik belajar matematika. Tapi yang nyebelin kalo Lili nggak duduk di jok motor ketika Niz pulang sekolah, adalah omelan panjang lebarnya Ibu. “Kamu itu! Gimana kalo Lili dijadiin umpan genderuwo? Kamu sebagai kakak harusnya bisa dong, jagain adek kamu. Jangan egois, mentang-mentang pulang duluan, adekmu ditinggal!” Niz suka sebel kalo dituduh sebagai kakak yang nggak bertanggung jawab. Lebih sebel lagi kalo habis mendengar ceramah Ibu tentang bagaimana manjadi kakak yang baik, Lili-nya tiba-tiba muncul dengan cengiran sok nggak bersalah. Langsung deh anak itu dapat kado manis, dijitak kuat-kuat sama Niz!
Sampai sore menjelang, Lili belum muncul di rumah. Niz jadi sebel. Ibunya juga cemas nungguin si Lili. Takut terjadi apa-apa sama anak ajaib itu. Pernah, Lili pulang dengan kepala benjol. Ketika ditanyain, Lili jawab sambil nyengir, “Anu, tadi abis berantem sama anak TK!”
“Assalamu’alaikum!” seru Lili riang di pintu rumah. Meooongg…
“Nah, Pus! Nih rumah kamu sekarang…” sementara kucing di gendongan Lili langsung diturunkan paksa, dan tuh kucing dengan nalurinya langsung menjelajah suasana baru.
“Lili! Dari mana aja kamuuuu…sesorean ini baru pulang?” omel Niz yang muncul tiba-tiba disertai asap putih. Biar berkesan misterius, gitu…
“Belajar di rumah Susi!”
Kucing Lili tanpa diduga malah mengitari kedua kaki Niz, dengan manja.
“Idiiih…Lili! Kucing siapa ini…??” Niz langsung mengibaskan kakinya, mengusir kucing manis itu. “Keluar, ih!”
“Eh jangan! Ini kucing Lili!” Lili meraih kucing itu. “Namanya Andromeda,” ujar Lili. “karena bukan kucing Bali. Kalo kucing Bali, namanya jadi Andro-made!”
“ Bawa keluar…!!” bentak Niz, yang sekarang hinggap di sofa ruang tamu, demi menghindari si kucing gemuk itu.
“Nggak!” balas Lili, lebih nyolot dari bentakan Niz.
“Bawa keluar! Kamu kan tau, aku nggak suka kucing!”
“Ah, bohong! Buktinya dikamarmu ada boneka Garfield!”
“Itu kan boneka! Ini kucing asli…ih, bawa keluar dooongg!!”
“Enak aja! Kasiaaan, tauuukkk!” Lili dengan nyolot mempertahankan kucing itu dalam gendongannya.
“Apaan sih? Lili, darimana kamu?” ujar Ibu yang demi mendengar pertengkaran kakak adik itu langsung muncul dari dapur.
“Tadi Lili belajar di rumah Susi, Bu!” lapor Lili.
“Lain kali kalo mau belajar pas pulang sekolah, kasih tau kakakmu dulu,”
“Pulsa Lili abis, Bu! Beliin doong…” Lili malah merajuk.
“Nggak! Jatah pulsa kamu ya segitu aja. Kalo abis, tanggungjawab sendiri.”
Lili merengut. Sedangkan Niz menunjuk-nunjuk kucing dalam gendongan Lili.
“Bu, Lili bawa oleh-oleh tuh! Kuciiing…usir keluar dong!”
“Kucing darimana, Li?” Ibu mengambil kucing gemuk nan manis itu dari gendongan Lili.
“Tadi, di rumah Susi. Kan banyak kucing yang berkeliaran nggak jelas luntang lantung gitu, yaudah Lili ambil satu aja. Si Susi-nya malah ngamuk-ngamuk. Heran deh.” Jelas Lili. “Boleh piara kan, Bu?”
“Hmmm, lucu juga. Boleh. Asal jangan nakal. Udah ah, Ibu ke dapur dulu.”
Lili ikut ke dalam dapur. Sebelum benar-benar meninggalkan ruang tamu, Lili sempat menjulurkan lidah tanda kemenangan ke arahnya. “Weee…!!!” dan si Andromeda ngikut langkah Lili, dengan pandangan angkuh layaknya seekor kucing.
Singkatnya (abisnya males nulis…hihihi) beberapa hari si kucing itu jadi piaraan resmi keluarga Niz. Bapaknya nggak ngelarang, apalagi Ibunya yang mengiyakan saja kemauan si anak manja, Lili. Sedangkan buat si kucing itu, seluruh rumah adalah zona bermainnya, kecuali kamar Niz dan ruang manapun yang sedang Niz kuasai.
Lama-lama si Andromeda itu nggak gitu-gitu menakutkan juga bagi Niz. Dia mulai merasa nyaman dengan kehadiran kucing gemuk itu. Bahkan kalau Andromeda nyelonong masuk ke kamar Niz, dibiarin aja tuh sama Niz.
Sesiangan itu, Niz lagi asyik-asyik ngelus bulu Andromeda yang ternyata halus banget.
“Euh, kalo tau semua kucing itu manis kayak kamu, nggak bakalan deh saya benci sampe nyaris phobia sama sodara-sodara kamu itu!” gumam Niz sambil masih asyik ngelus bagian punggung kucing itu. Andromeda jadi keenakan, matanya merem melek. Dengan manjanya, kucing itu bangkit dan asyik tiduran di pangkuan Niz. Niz kegelian sendiri sama tingkah kucing itu. Niz ingin menggendongnya, tapi tampaknya harus berpikir dua kali. Siapa tau si kucing berontak dan mencakar?
“Naaa…ketahuan…!! Niz sayang kan sama si Pus? Hayoo, ngaku…?? Dulu aja tereak-tereak minta dibawa keluar si Andromeda, sekarang eh sekarang malah asyik mangku…?? Yeee…tanaman makan pagar!” celoteh Lili yang bawel itu. Dia muncul dari depan, mulutnya celemotan cokelat dan tangan kanannya menggenggam sebatang cokelat yang hampir lumer, tangannya sampai kotor. Bahkan sampe bajunya pun kena bercak cokelat. Heran. Tuh anak sampe gede begini tetep aja kayak anak kecil.
Niz jadi tengsin. Cepet-cepet dipindahkannya si Andromeda.
“Apaan sih? Orang kucing kamu yang dateng-dateng minta dipangku!” Niz berkelit. Kan tengsin ketahuan suka sama kucing di depan adiknya yang bawel.
“Ngakuuu ajaaa…” Lili dengan riang berlarian ke dapur. Sibuk mengaduk-aduk isi kulkas, mencari air dingin.
Malamnya Niz lagi asyik memahami buku komik punya si Lili di meja belajar. Sedangkan si Andromeda dibiarkan bertengger manis di kasur.
Merasa lapar, Niz keluar kamar dan dengan ributnya berteriak minta makan. Heuh, kayak dimana aja si Niz ini. Persis mbak-mbak hutan wisata yang hobi gelayutan dari pohon ke pohon.
Puas mengisi perut dengan suguhan sayur asem plus ikan asin dan sambal yang asli bikin perut Niz jadi murus-murus dan cukup 2 kali bolak-balik kamar mandi, Niz kembali ke kamarnya. Melanjutkan baca-baca komik punya si Lili itu. Sedang Lili sedang heboh di kamarnya, mencari-cari buku komiknya yang baru kemarin dibeli. Tapi Niz nggak peduli. Toh Lili sering ngambil buku pe-er bahasa Inggrisnya diam-diam kok. Bukaan, bukan buat diisi atau apa. Lili bukan tipe adik yang peduli sama kesulitan Niz yang satu ini. Tapi buat dikomentarin tuh, nilai-nilai Niz di buku itu. Kalo nilainya bagus, ditulisin gini, “nyontek dari mane lu Niz?”, kalo nilainya jeblog dikasih komentar gini, “aaah, Niz, payah lu. Masa udah nyontek tetep kayak gini nilainya? Makanya kalo cari tempat contekan yang qualified dikit dong!”.
Selagi tenggelam dalam serunya cerita petualangan geng motor yang asli bikin terharu karena ternyata tokohnya menjunjung nilai-nilai Pancasila, Niz merasa ada wewangian aneh di kamarnya. Pikirannya langsung tertuju pada adik semata wayangnya. Niz mikir kalo si Lili sedang bikin sajen buat ngusir nyamuk yang usil bikin sarang di kamarnya.
Niz merasa nggak enak dengan wewangian yang tidak termasuk dalam kategori aroma terapi itu, jadinya makhluk itu keluar kamar lagi. Baru hendak mencapai pintu kamar yang terbuka, Niz melihat cairan kekuningan, dan matanya dengan tajam setajam silat, langsung mencari si Andromeda, yang tidak terlihat lagi di kamarnya. Jeritan Niz pun langsung melengking.
“LILI!!! KUCING LO TUH! BAWA KELUAAARRRR…!!!”
Ibu
Ketika waktu istirahat tiba, Niz nggak ikut-ikutan teman-temannya hura-hura di kantin. Dengan muka suntuk dan banyak minat untuk hura-hura tapi sayang kantongnya lagi cekakakan karena cekak abis. Niz kahirnya hanya bisa untuk mencoba baca buku resep masakan yang nyasar di tasnya, apa lagi kalo bukan ulah Lili. Tapi justru melihat gambar makanan yang maknyusss begitu, Niz tambah lapar. Akhirnya, ia tarik buku satu lagi tasnya yang gedenya amit-amit. Dan, yang ada di tangannya kini, buku belajar mengeja untuk anak TK, punya tetangganya. Niz jadi kesel setengah mampus, kenapa buku-buku ajaib gitu bisa bergabung dengan buku pelajaran di dalam tasnya.
Daripada nemuin buku ajaib lagi, Niz lebih memilih untuk menghampiri Resi, temannya yang hari itu juga nggak ikutan ke kantin.
“Oii, Res! Tumben nggak ke kantin?”
Resi nyengir. “Kalo saya ke kantin, itu baru tumben!”
Niz tanpa permisi langsung curhat dengan sedihnya. Mulutnya dimonyong-monyongin segala, mukanya di setel sok memprihatinkan.
“Huh, nyebebelin banget nyokap saya. Pagi-pagi nggak ngebikinin sarapan pagi. Padahal biasanya udah nyiapin sejam sebelum saya bangun. Katanya tuh lupa, bangun kesiangan. Mana nggak dititipin uang jajan. Padahal cekak banget saya, duit bulanan dari kemaren udah abis. Nyokap bilang, kalo duit bulanan udah abis ya udah, duit segitu kan buat sebulan, tapi kalo saya mah, duit segitu seminggu juga abis. Yah, bahkan sehari juga bisa abis…kalo lagi beruntung dicopet maling jemuran. Yaelah, nggak tau nih nyokap, kalo pagi tadi saya belum sempat sarapan, Cuma nilep roti punya si Lili, setan kecil bawel itu. Kan jadi lapar berat sayanya. Ada kali dua puluh kiloan beratnya. Trus nyokap saya itu over protective sama saya. Katanya kalo naik motor nggak boleh sambil ditenteng itu motor. Kalo lagi jalan-jalan juga, nggak boleh pulang malam. Yaudah, karena nggak boleh pulang malam, saya pulangnya pagi aja. Eh, si nyokap malah ngamuk-ngamuk. Aneh deh.” Niz yang kehausan abis menceritakan riwayat hidupnya, langsung menyambar botol minum punya Resi.
Resi terdiam cukup lama. Sepertinya lagi menghayati cerita Niz yang diceritakan dengan khidmat nggak berhenti-berhenti.
“Niz, enak kali ya punya Ibu yang perhatian kayak Ibu kamu?” tau-tau si Resi bertanya kalem.
“Enak darimana, atuh, Res. Ribet…kalo saya nggak muncul-muncul di rumah, ditanyain mulu. Kan saya paling perginya setengah hari aja, paling lama juga seminggu balik.”
Resi tercenung.
“Saya… pengen deh punya Ibu kayak gitu… atau paling nggak, ya punya Ibu.”
“Eh?”
“Iya. Ibuku kan dua tahun lalu meninggal.”
“Oh ya? Ya ampuun, Res..maaf…aduh, jadi nggak enak. Kamu kok nggak pernah cerita?”
“Terlalu pahit, Niz.”
“Saya tambahin gula deh.”
“Hmmm…” Resi menerawang ke langit-langit kelas yang sudah pada bolong. “dulu waktu Ibu masih ada, saya sering mengabaikannya. Waktu Ibu sakit malah saya jarang banget menjenguk. Asyik jalan-jalan sama teman-teman. Nggak pernah peduli sama Ibu. Malah saya sering ngebentaknya, kalo keinginan saya nggak langsung dibeliin. Saya juga nggak pernah dengerin nasihatnya. Malas belajar. Padahal Ibu ingin saya jadi pinter. Kan lumayan buat bantu-bantu jagain rumah. Meski Ibuku nggak seperhatian Ibu kamu, karena adek saya banyak. Ibu memang lebih memperhatikan adek-adek saya. Saya jadi merasa kurang diurus. Tapi saya yakin kok, itu karena Ibu menganggap saya sudah cukup besar untuk mengurus diri sendiri.”
Niz jadi terdiam.
“Niz, andaikan waktu bisa diulang lagi, saya nggak akan mau ngebentak Ibu saya. Saya mau mendengar semua nasihatnya. Sekarang kalau diingat perlakuan saya sama Ibu, rasanya kejam sekali. Padahal jasa Ibu jauh lebih berharga daripada barang-barang yang saya minta. Andaikan masih ada waktu untuk merubah sikap saya dan Ibu masih ada, akan saya ubah sikap saya itu.” Resi menyusut airmata yang hendak jatuh. Niz dengan lembut membelai punggung temannya itu.
Dentang lonceng tanda istirahat usai bergema. Niz kembali ke tempatnya, dan mengucap syukur, punya Ibu yang perhatian. Saat itu juga, Niz berjanji bakalan jadi anak yang berbakti pada Ibunya.
Daripada nemuin buku ajaib lagi, Niz lebih memilih untuk menghampiri Resi, temannya yang hari itu juga nggak ikutan ke kantin.
“Oii, Res! Tumben nggak ke kantin?”
Resi nyengir. “Kalo saya ke kantin, itu baru tumben!”
Niz tanpa permisi langsung curhat dengan sedihnya. Mulutnya dimonyong-monyongin segala, mukanya di setel sok memprihatinkan.
“Huh, nyebebelin banget nyokap saya. Pagi-pagi nggak ngebikinin sarapan pagi. Padahal biasanya udah nyiapin sejam sebelum saya bangun. Katanya tuh lupa, bangun kesiangan. Mana nggak dititipin uang jajan. Padahal cekak banget saya, duit bulanan dari kemaren udah abis. Nyokap bilang, kalo duit bulanan udah abis ya udah, duit segitu kan buat sebulan, tapi kalo saya mah, duit segitu seminggu juga abis. Yah, bahkan sehari juga bisa abis…kalo lagi beruntung dicopet maling jemuran. Yaelah, nggak tau nih nyokap, kalo pagi tadi saya belum sempat sarapan, Cuma nilep roti punya si Lili, setan kecil bawel itu. Kan jadi lapar berat sayanya. Ada kali dua puluh kiloan beratnya. Trus nyokap saya itu over protective sama saya. Katanya kalo naik motor nggak boleh sambil ditenteng itu motor. Kalo lagi jalan-jalan juga, nggak boleh pulang malam. Yaudah, karena nggak boleh pulang malam, saya pulangnya pagi aja. Eh, si nyokap malah ngamuk-ngamuk. Aneh deh.” Niz yang kehausan abis menceritakan riwayat hidupnya, langsung menyambar botol minum punya Resi.
Resi terdiam cukup lama. Sepertinya lagi menghayati cerita Niz yang diceritakan dengan khidmat nggak berhenti-berhenti.
“Niz, enak kali ya punya Ibu yang perhatian kayak Ibu kamu?” tau-tau si Resi bertanya kalem.
“Enak darimana, atuh, Res. Ribet…kalo saya nggak muncul-muncul di rumah, ditanyain mulu. Kan saya paling perginya setengah hari aja, paling lama juga seminggu balik.”
Resi tercenung.
“Saya… pengen deh punya Ibu kayak gitu… atau paling nggak, ya punya Ibu.”
“Eh?”
“Iya. Ibuku kan dua tahun lalu meninggal.”
“Oh ya? Ya ampuun, Res..maaf…aduh, jadi nggak enak. Kamu kok nggak pernah cerita?”
“Terlalu pahit, Niz.”
“Saya tambahin gula deh.”
“Hmmm…” Resi menerawang ke langit-langit kelas yang sudah pada bolong. “dulu waktu Ibu masih ada, saya sering mengabaikannya. Waktu Ibu sakit malah saya jarang banget menjenguk. Asyik jalan-jalan sama teman-teman. Nggak pernah peduli sama Ibu. Malah saya sering ngebentaknya, kalo keinginan saya nggak langsung dibeliin. Saya juga nggak pernah dengerin nasihatnya. Malas belajar. Padahal Ibu ingin saya jadi pinter. Kan lumayan buat bantu-bantu jagain rumah. Meski Ibuku nggak seperhatian Ibu kamu, karena adek saya banyak. Ibu memang lebih memperhatikan adek-adek saya. Saya jadi merasa kurang diurus. Tapi saya yakin kok, itu karena Ibu menganggap saya sudah cukup besar untuk mengurus diri sendiri.”
Niz jadi terdiam.
“Niz, andaikan waktu bisa diulang lagi, saya nggak akan mau ngebentak Ibu saya. Saya mau mendengar semua nasihatnya. Sekarang kalau diingat perlakuan saya sama Ibu, rasanya kejam sekali. Padahal jasa Ibu jauh lebih berharga daripada barang-barang yang saya minta. Andaikan masih ada waktu untuk merubah sikap saya dan Ibu masih ada, akan saya ubah sikap saya itu.” Resi menyusut airmata yang hendak jatuh. Niz dengan lembut membelai punggung temannya itu.
Dentang lonceng tanda istirahat usai bergema. Niz kembali ke tempatnya, dan mengucap syukur, punya Ibu yang perhatian. Saat itu juga, Niz berjanji bakalan jadi anak yang berbakti pada Ibunya.
kenangan biru
Coba-coba bikin cerita remaja yang tokohnya bukan Niz, dan temanya bukan si Lili. Jadi, tadi iseng mampir di situs cerita remaja. Rata-rata isinya tentang percintaan, jadi iseng bikin yang sejenis. Ini aseli loh, buatan saya. Tapi kok ya, rasanya beda aja…maklum, nggak pernah bikin cerita ginian. Jadi kalo aneh ya maap, namanya juga amatir bin kapiran. Hihihi. Mariii…baca-baca. Cekidot (baca : check this out!)
Sudah tiga bulan berlalu sejak peristiwa itu. Tapi sampai sejauh ini, Vanda tetap diselimuti awan mendung. Dia masih suka mengurung diri di kamarnya yang sunyi, menangis diam-diam. Prestasi sekolahnya menurun, meskipun tidak drastis. Segala upaya juga telah dilakukan teman dekatnya agar bisa mengembalikan Vanda yang seperti dulu, Vanda yang ceria, tak berhasil.
Sore itu sepulang sekolah, Vanda mengamati rumah kosong di depan rumahnya lebih ramai. Beberapa orang mengangkut perabotan rumah tangga dari mobil boks ke dalam rumah itu. Diantara orang-orang itu, ada cowok yang tengah mengangkut kardus. Ketika melihat Vanda, dia berhenti dan tersenyum. Vanda tersenyum kikuk. Senyuman itu! Wajahnya… Batin Vanda. Seperti mengingatkanku kepada… Vanda menggeleng, dan mempercepat langkahnya ke rumah.
Sampai di rumah, Vanda tidak keluar kamar hingga malam menjelang. Dia masih memikirkan senyum cowok itu. Bersama itu, sekelebat kenangan manis bersama Rino juga membayang. Tanpa disadarinya, airmatanya jatuh lagi.
“Kak?” Fina, adiknya tau-tau sudah muncul disampingnya.
Vanda menghapus airmatanya, dan berkata galak.
“Sudah kubilang, ketuk pintu sebelum masuk ke kamarku!”
“Sudah Fina ketuk dari tadi, kakak saja yang tidak dengar. Kakak tidak makan?”
“Nanti,” jawabnya pendek.
“Tapi kak…nanti kakak bisa sakit. Kakak belum makan dari tadi.” Fina tidak menyerah.
Vanda tidak menjawab, hanya menatap kosong.
“Tuh kaaan. Kakak seperti itu lagi… ayolah, nanti makanannya dingin.”
Dari pintu yang sudah terbuka, muncul Ibu.
“Vanda, ayo makan.”
Vanda akhirnya menyerah. Dia beranjak dari kamar, menuju meja makan.
Esoknya, Vanda mendapat kejutan. Cowok penghuni baru rumah itu ternyata juga teman sekolahnya.
“Vanda ya?” tanya cowok itu ragu, ketika mereka bertemu di perpustakaan.
“Iya. Kok tau?”
Cowok itu tersenyum. “Aku, Raka. Kamu yang tinggal di depan rumahku…secara aku tau namamu.”
Lalu mereka larut dalam obrolan yang menyenangkan. Vanda dan Raka sama-sama suka basket. Raka juga humoris, yang akhirnya menjadi pemicu sifat lama Vanda yang doyan jahil.
Semakin lama, Raka dan Vanda semakin akrab. Lebih lagi ditunjang dengan lokasi rumah yang berdekatan. Semakin lama juga Vanda merasa layaknya menemukan sosok Rino yang hilang. Vanda menyukai Raka, tetapi juga merasa sakit tiap kali sosok Rino muncul dalam diri Raka. Vanda ingin menghilangkan perasaan itu, tapi sulit. Seakan Rino dan Raka itu satu. Seakan Rino tahu apa yang dirasakan Vanda yang sangat kehilangan, sehingga muncul lagi dalam diri Raka.
Sejak peristiwa kecelakaan itu, Vanda memang sangat merasa bersalah. Ia tak henti-henti menyalahkan diri, meski keluarga Rino pun sudah hampir bisa merelakan Rino. Tapi tidak bagi Vanda. Hari-hari dilaluinya seperti menembus awan gelap yang tidak berujung. Kehilangan, itu pasti. Vanda yang ceria berubah total menjadi Vanda yang pemurung, nyaris tidak mau keluar kamar.
Suatu kali, Raka mengajak Vanda ke kafe. “Ada yang mau aku bicarakan,” alasannya.
Vanda duduk di pojok kafe dekat jendela seperempat jam lamanya. Menikmati gerimis ringan dengan menyesap milkshake-nya.
“Vanda! Apa aku terlambat?” tanya Raka yang baru muncul. Rambutnya yang ikal tampak basah. “Sori, tadi ada urusan sedikit sama klub basket sekolah. Di sekolah hujan deras, jadi kuyup begini deh. Tapi udah beres kok.” Ujarnya sambil duduk di hadapan Vanda.
“Nggak terlambat kok. Aku juga baru datang,” Vanda tersenyum.
Setelah pesanan Raka datang, Vanda langsung bertanya serius, “Sebenarnya, apa yang mau kamu bicarakan?” matanya menatap langsung ke mata Raka. Ah. Lagi-lagi mengingatkannya pada Rino. Vanda langsung mengalihkan pandangannya.
“Kamu kenal sama Rino?” Raka bertanya serius. Baru kali ini dia bertanya tentang Rino.
“Iya…ah, aku…sangat kehilangan dia.” Wajah Vanda tahu-tahu jadi sedih.
“Maafkan aku,” kata Raka demi melihat wajah Vanda yang berubah. “Aku ini sepupunya Rino.”
“Sepupunya?” Pantas anak ini mengingatkanku padanya!
“Aku tahu kamu sangat kehilangan Rino, dari sahabat Rino, Alan. Kemudian, aku seperti terpanggil oleh Rino, untuk coba menghibur kamu. Kamu tahu, Rino sangat sayang sama kamu. Dia sering menceritakanmu padaku. Dan ketika aku harus pindah rumah, pas sekali aku pindah di dekat rumahmu. Jadi, aku bisa melaksanakan, yah, anggap saja amanat dari Rino. Aku mencoba menghibur kamu, dan memang, kamu adalah pemurung. Sebisa mungkin aku mencoba mengembalikan keadaan kamu yang ceria.” Terang Raka panjang lebar.
“Terimakasih atas usaha kamu. Kamu cukup berhasil kok. Aku merasa kekosongan hidupku terisi sejak kenal sama kamu. Dan aku juga merasa…menemukan Rino dalam dirimu.” Vanda mencoba tersenyum.
“Aku yang berusaha menjadi Rino, demi kamu.” Raka ikut tersenyum.
Hening menyelimuti mereka berdua. Hanya terdengar suara musik ringan yang mengalun ke penjuru kafe dan gerimis yang menderas, berubah jadi derai hujan.
“Vanda, awalnya aku hanya ingin membantumu kembali ceria…”
“Tapi dengan menjadi seperti Rino kamu malah tambah menyiksaku. Aku semakin teringat padanya. Usahaku untuk tidak terlalu mengingatnya, jadi sia-sia.”
“Maafkan aku…tapi Vanda…” Raka menggantung ucapannya. “Vanda, aku suka sama kamu. Awalnya aku mancoba mengabaikannya. Tapi…aku sadar, aku menyayangimu. Maukah…”
“Raka,” Vanda memotong ucapan Raka. “Aku juga suka sama kamu. Tapi, bila kamu ingin agar aku bisa menjadi seperti dulu, tidak perlu sejauh ini. Aku takut, bila nanti aku hanya menyayangimu karena Rino. Aku takut nanti kamu tersakiti, kamu hanya berada di bawah bayang-bayang Rino. Aku harus mencoba melepaskan bayangan Rino, lalu aku bisa melihatmu…sebagai Raka. Bukan sebagai Rino. Kamu mengerti kan?”
Raka tidak menjawab.
“Kamu mengerti kan?” ulang Vanda.
“Ya, aku mengerti…” Raka tersenyum.
Hujan yang turun perlahan mereda.
Sudah tiga bulan berlalu sejak peristiwa itu. Tapi sampai sejauh ini, Vanda tetap diselimuti awan mendung. Dia masih suka mengurung diri di kamarnya yang sunyi, menangis diam-diam. Prestasi sekolahnya menurun, meskipun tidak drastis. Segala upaya juga telah dilakukan teman dekatnya agar bisa mengembalikan Vanda yang seperti dulu, Vanda yang ceria, tak berhasil.
Sore itu sepulang sekolah, Vanda mengamati rumah kosong di depan rumahnya lebih ramai. Beberapa orang mengangkut perabotan rumah tangga dari mobil boks ke dalam rumah itu. Diantara orang-orang itu, ada cowok yang tengah mengangkut kardus. Ketika melihat Vanda, dia berhenti dan tersenyum. Vanda tersenyum kikuk. Senyuman itu! Wajahnya… Batin Vanda. Seperti mengingatkanku kepada… Vanda menggeleng, dan mempercepat langkahnya ke rumah.
Sampai di rumah, Vanda tidak keluar kamar hingga malam menjelang. Dia masih memikirkan senyum cowok itu. Bersama itu, sekelebat kenangan manis bersama Rino juga membayang. Tanpa disadarinya, airmatanya jatuh lagi.
“Kak?” Fina, adiknya tau-tau sudah muncul disampingnya.
Vanda menghapus airmatanya, dan berkata galak.
“Sudah kubilang, ketuk pintu sebelum masuk ke kamarku!”
“Sudah Fina ketuk dari tadi, kakak saja yang tidak dengar. Kakak tidak makan?”
“Nanti,” jawabnya pendek.
“Tapi kak…nanti kakak bisa sakit. Kakak belum makan dari tadi.” Fina tidak menyerah.
Vanda tidak menjawab, hanya menatap kosong.
“Tuh kaaan. Kakak seperti itu lagi… ayolah, nanti makanannya dingin.”
Dari pintu yang sudah terbuka, muncul Ibu.
“Vanda, ayo makan.”
Vanda akhirnya menyerah. Dia beranjak dari kamar, menuju meja makan.
Esoknya, Vanda mendapat kejutan. Cowok penghuni baru rumah itu ternyata juga teman sekolahnya.
“Vanda ya?” tanya cowok itu ragu, ketika mereka bertemu di perpustakaan.
“Iya. Kok tau?”
Cowok itu tersenyum. “Aku, Raka. Kamu yang tinggal di depan rumahku…secara aku tau namamu.”
Lalu mereka larut dalam obrolan yang menyenangkan. Vanda dan Raka sama-sama suka basket. Raka juga humoris, yang akhirnya menjadi pemicu sifat lama Vanda yang doyan jahil.
Semakin lama, Raka dan Vanda semakin akrab. Lebih lagi ditunjang dengan lokasi rumah yang berdekatan. Semakin lama juga Vanda merasa layaknya menemukan sosok Rino yang hilang. Vanda menyukai Raka, tetapi juga merasa sakit tiap kali sosok Rino muncul dalam diri Raka. Vanda ingin menghilangkan perasaan itu, tapi sulit. Seakan Rino dan Raka itu satu. Seakan Rino tahu apa yang dirasakan Vanda yang sangat kehilangan, sehingga muncul lagi dalam diri Raka.
Sejak peristiwa kecelakaan itu, Vanda memang sangat merasa bersalah. Ia tak henti-henti menyalahkan diri, meski keluarga Rino pun sudah hampir bisa merelakan Rino. Tapi tidak bagi Vanda. Hari-hari dilaluinya seperti menembus awan gelap yang tidak berujung. Kehilangan, itu pasti. Vanda yang ceria berubah total menjadi Vanda yang pemurung, nyaris tidak mau keluar kamar.
Suatu kali, Raka mengajak Vanda ke kafe. “Ada yang mau aku bicarakan,” alasannya.
Vanda duduk di pojok kafe dekat jendela seperempat jam lamanya. Menikmati gerimis ringan dengan menyesap milkshake-nya.
“Vanda! Apa aku terlambat?” tanya Raka yang baru muncul. Rambutnya yang ikal tampak basah. “Sori, tadi ada urusan sedikit sama klub basket sekolah. Di sekolah hujan deras, jadi kuyup begini deh. Tapi udah beres kok.” Ujarnya sambil duduk di hadapan Vanda.
“Nggak terlambat kok. Aku juga baru datang,” Vanda tersenyum.
Setelah pesanan Raka datang, Vanda langsung bertanya serius, “Sebenarnya, apa yang mau kamu bicarakan?” matanya menatap langsung ke mata Raka. Ah. Lagi-lagi mengingatkannya pada Rino. Vanda langsung mengalihkan pandangannya.
“Kamu kenal sama Rino?” Raka bertanya serius. Baru kali ini dia bertanya tentang Rino.
“Iya…ah, aku…sangat kehilangan dia.” Wajah Vanda tahu-tahu jadi sedih.
“Maafkan aku,” kata Raka demi melihat wajah Vanda yang berubah. “Aku ini sepupunya Rino.”
“Sepupunya?” Pantas anak ini mengingatkanku padanya!
“Aku tahu kamu sangat kehilangan Rino, dari sahabat Rino, Alan. Kemudian, aku seperti terpanggil oleh Rino, untuk coba menghibur kamu. Kamu tahu, Rino sangat sayang sama kamu. Dia sering menceritakanmu padaku. Dan ketika aku harus pindah rumah, pas sekali aku pindah di dekat rumahmu. Jadi, aku bisa melaksanakan, yah, anggap saja amanat dari Rino. Aku mencoba menghibur kamu, dan memang, kamu adalah pemurung. Sebisa mungkin aku mencoba mengembalikan keadaan kamu yang ceria.” Terang Raka panjang lebar.
“Terimakasih atas usaha kamu. Kamu cukup berhasil kok. Aku merasa kekosongan hidupku terisi sejak kenal sama kamu. Dan aku juga merasa…menemukan Rino dalam dirimu.” Vanda mencoba tersenyum.
“Aku yang berusaha menjadi Rino, demi kamu.” Raka ikut tersenyum.
Hening menyelimuti mereka berdua. Hanya terdengar suara musik ringan yang mengalun ke penjuru kafe dan gerimis yang menderas, berubah jadi derai hujan.
“Vanda, awalnya aku hanya ingin membantumu kembali ceria…”
“Tapi dengan menjadi seperti Rino kamu malah tambah menyiksaku. Aku semakin teringat padanya. Usahaku untuk tidak terlalu mengingatnya, jadi sia-sia.”
“Maafkan aku…tapi Vanda…” Raka menggantung ucapannya. “Vanda, aku suka sama kamu. Awalnya aku mancoba mengabaikannya. Tapi…aku sadar, aku menyayangimu. Maukah…”
“Raka,” Vanda memotong ucapan Raka. “Aku juga suka sama kamu. Tapi, bila kamu ingin agar aku bisa menjadi seperti dulu, tidak perlu sejauh ini. Aku takut, bila nanti aku hanya menyayangimu karena Rino. Aku takut nanti kamu tersakiti, kamu hanya berada di bawah bayang-bayang Rino. Aku harus mencoba melepaskan bayangan Rino, lalu aku bisa melihatmu…sebagai Raka. Bukan sebagai Rino. Kamu mengerti kan?”
Raka tidak menjawab.
“Kamu mengerti kan?” ulang Vanda.
“Ya, aku mengerti…” Raka tersenyum.
Hujan yang turun perlahan mereda.
Selasa, 03 Agustus 2010
puasa niz
Puasa Niz
Berhubung bentar lagi puasa, saya mau posting sebuah cerpen karang-karangannya saya. Buat appetizer, biar nggak kaget lagi kalo tiba-tiba besok udah puasa.
Selamat menikmati!
=============================
Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah.
Puasa-puasa gini kantin sekolah Niz jadi sepi. Anak-anak yang biasanya dengan semangat bergerombol di kantin, bergosip gila-gilaan dan makan-makan memenuhi permintaan pernghuni perut, hilang semua. Termasuk Niz yang kalau menurut catatan ibu kantin hobinya duduk di pojokan gelap sama teman-temannya. Terkadang Niz disitu buat ngintipin tikus yang suka numpang lewat sembarangan, menghilangkan selera makan.
Tapi sekarang beda. Namanya juga bulan puasa, selain puasa makan dan minum juga harus nahan nafsu buat ngomongin anak-anak basket yang bau keringet. Niz lebih memilih nongkrong di kelas, sambil sok rajin baca buku. Buku apa sodara-sodara? Buku komik hasil menjarah di rumah sepupunya. Tapi Niz tahun ini punya niat mulia sodara-sodara. Ia pengen berpuasa secara afdhol, tidak seperti tahun lalu yang emang sih nggak makan nggak minum, tapi ngegosip go terus. Jadi kali ini ia benar-benar tidak mau menuruti hawa nafsunya.
Suasana kelas pas istirahat pun lebih ramai dari biasanya. Penghuni kantin pulang kampung ke pos mereka di kelas masing-masing. Meski obrolan dibatasi, tidak lagi menggosip, kelas tetap saja ramai meskipun setengah penghuninya loyo dan lemas nyaris nggak punya semangat hidup. Yang masih semangat, mencoba melawak dengan memberi tebakan basi dan ngaco.
“Ah, kamu murung aja. Saya jadi ingat tebakan nih. Hoi, apa bedanya pemurung dan pemuluuuung??” Tere dengan semangat memberi tebakan.
Ina, Dewi dan Vita yang ngegerombol sama dia menjawab kompak : “Pemurung adalah orang yang tidak pernah merasa gembira, sedangkan pemulung adalah olang yang tidak pelnah melasa gembila…!”
“Yah, kok tau sih??”
“Iyalah, dari kemarin kan kamu udah ngasih tebakan itu!”
Niz jadi tertarik. Dia menghampiri mereka berempat.
“Coba tebak nih yaa… apa yang kalo pagi di dapur, kalo siang nangkring di pohon mangga?”
“Apaan? Emang ada?” Tanya Dewi.
“Ada dong.”
“Jawabannya apa?” desak Ina penasaran.
“Panci .”
“Kok panci?”
“Ya terserah dong. Panci panci saya kok…” ujar Niz kalem lalu kembali ke tempatnya.
“Wuuu…”
***
Esoknya nggak berubah seperti kemarin. Malah lebih parah, anak-anak sudah nggak ada yang minat main tebak-tebakan. Boro-boro main tebak-tebakan, bisik-bisik sama ketawa aja udah males.
Pada pelajaran kedua, biologi, bu wali kelas membawa anak baru. Namanya Ria. Langsung didudukkan di sebelah Niz,yang kebetulan penghuninya lagi nggak enak badan komplikasi panu.
“Hi! Enjoy your new class, and I am Niz, your new good and pretty friend!” Niz langsung memperkenalkan diri, sok nginggris dikit, padahal pelafalannya masih belepotan.
“Aku, Ria.” Ria dengan kalem memperkenalkan singkat dirinya, kemudian dengan tekun mengikuti pelajaran yang tengah berlangsung.
Pas istirahat, baru deh ketahuan kedok Ria yang sebenarnya. Anaknya nggak bisa diam banget. Berhubung Niz yang duduk disebelahnya, jadi mau nggak mau harus meluangkan telinganya untuk mendengar ocehan Ria. Padahal jangankan minat untuk ngobrol, mendengarkan saja udah males banget.
“Ya ampun, liat orang itu saya jadi ingat sama pacar saya yang dulu…sama-sama cowok soalnya. Dan juga…”
“Ehm, Ria, bisa nggak, nggak ngomongin orang gitu?” Niz menyela pembicaraan Ria. “Saya takut jadi ikut ngomongin orang juga…”
“Oh iya, saya lupa. Ini bulan puasa ya. Makasih udah ingatkan. Kalo kucing boleh kan? Kucing tetangga saya waktu di rumah lama itu, lucu banget. Masa punya empat kaki? Tapi pemiliknya itu lho. Sombong banget. Baru segitu aja udah sombong sampe segitunya. Huh. Trus…”
Ya ampun! Niz lebih memilih untuk kembali menekuni buku biologi yang sempet-sempetnya dibuka dalam waktu istirahat.
Pulang sekolah, Niz pulang naik bus kota bareng Ria, karena setelah ditelusuri menggunakan jasa pet detective, rumah Ria ternyata searah sama rumah Niz.
Di bus, mereka berdua syukur Alhamdulillah, dapat tempat kosong. Jadi bisa duduk manis memandangi pemandangan jalan yang berdebu. Ria kembali mengoceh nggak berhenti-berhenti kecuali kalo kepalanya kejeduk akibat dari ulah supir yang rada ugal-ugalan.
“Oh ya, Niz. Kita ke mall yuk?”
“Ke mall?” ulang Niz. Sebenernya males banget, pengen langsung ke rumah dan leyeh-leyeh sampai waktu berbuka puasa.
“Iya, ke mall. Kemaren saya lihat baju bagus banget. Tenang aja, saya beliin kamu sesuatu deh!”
Wow, bakal dibeliin nih! Sorak Niz dalam hati. Tapi…siang ini panas banget. Enaknya sih di rumah, tidur siang sampai magrib.
“Tapi…”
Dan Ria kembali membujuk Niz, dan akhirnya, entah bagaimana caranya, mereka berdua turun di depan sebuah mall.
Di dalam mall, naluri shopaholic Ria menjadi-jadi. Dengan semangat ’45, anak itu menyeret Niz yang lemes mengobrak abrik toko-toko baju. Seakan nggak puas di satu toko, dia kembali mangajak Niz keluar masuk toko. Nggak dapat yang dia cari, malah kembali ke toko pertama. Niz keki berat. Kemudian, Ria ngajak muter-muterin mall, nyari barang baru.
Setelah kaki Niz rasanya mau patah saking pegelnya menemani Ria belanja, Ria memenuhi janjinya pada Niz. Dia membelikan Niz beberapa aksesori rambut dan sebuah topi keren.
“Oh my god, Niz. Kamu lemes banget. Ayok kita makan dulu. Saya traktir,”
“Tapi, saya kan puasa!”
“Nggak. Kamu kelihatan lemes, saya takut kamu malah jadi sakit. Ayolah.” Ria terus membujuk.
Niz mikir. Dia emang udah lemes dan nyaris dehidrasi. Terus dia juga membayangkan suasana buka puasa di rumahnya. Bapaknya kerja, kalo buka puasa di luar. Ibunya juga orang sibuk. Sedang adiknya, si Lili suka nggak peduli sama Niz.
Sedangkan Ria terus membujuk sampai bibirnya kering. Dan akhirnya Niz terbujuk rayuan pulau kelapa si Ria, dan sekarang harus tabah kembali diseret Ria masuk ke food court.
***
Sampai di rumah sudah sore. Bentar lagi azan magrib menggema.
“Niz, kamu dari mana saja? Itu ibu udah bikinin kamu pudding mangga. Kata Lili, kamu paling suka makan mangga.” sambut ibunya di dapur.
“Yoyoy, Niz. Tadi Lili ke supermarket sama ibu, Lili beliin cokelat tuh, di meja.” tambah Lili.
Niz melirik ke meja makan. Benar saja, sebatang cokelat Cadbury kesukaannya bertengger manis disitu.
Tak lama, bapaknya datang. Membawa ayam goreng Kentucky, lagi-lagi kesukaan Niz.
“Lho, bapak tumben pulang cepat?”
“Sekali-sekali nggak apa-apa dong. Pengen buka puasa di rumah,” kata bapak. “Kalian semua masih puasa kan?”
“Masih dong!” sambar Lili cepat.
Sedangkan Niz tentu saja nggak ngaku kalo puasanya batal. Ya Allah, nyesel banget dia hari ini.
Azan magrib berkumandang. Tapi Niz nggak menyerbu meja makan dengan semangat seperti Lili. Dia mengeluarkan hapenya, menelpon Ria.
“Sialan kamu, Ria!!!”
Lalu cepat-cepat dimatikan hapenya.
Berhubung bentar lagi puasa, saya mau posting sebuah cerpen karang-karangannya saya. Buat appetizer, biar nggak kaget lagi kalo tiba-tiba besok udah puasa.
Selamat menikmati!
=============================
Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah.
Puasa-puasa gini kantin sekolah Niz jadi sepi. Anak-anak yang biasanya dengan semangat bergerombol di kantin, bergosip gila-gilaan dan makan-makan memenuhi permintaan pernghuni perut, hilang semua. Termasuk Niz yang kalau menurut catatan ibu kantin hobinya duduk di pojokan gelap sama teman-temannya. Terkadang Niz disitu buat ngintipin tikus yang suka numpang lewat sembarangan, menghilangkan selera makan.
Tapi sekarang beda. Namanya juga bulan puasa, selain puasa makan dan minum juga harus nahan nafsu buat ngomongin anak-anak basket yang bau keringet. Niz lebih memilih nongkrong di kelas, sambil sok rajin baca buku. Buku apa sodara-sodara? Buku komik hasil menjarah di rumah sepupunya. Tapi Niz tahun ini punya niat mulia sodara-sodara. Ia pengen berpuasa secara afdhol, tidak seperti tahun lalu yang emang sih nggak makan nggak minum, tapi ngegosip go terus. Jadi kali ini ia benar-benar tidak mau menuruti hawa nafsunya.
Suasana kelas pas istirahat pun lebih ramai dari biasanya. Penghuni kantin pulang kampung ke pos mereka di kelas masing-masing. Meski obrolan dibatasi, tidak lagi menggosip, kelas tetap saja ramai meskipun setengah penghuninya loyo dan lemas nyaris nggak punya semangat hidup. Yang masih semangat, mencoba melawak dengan memberi tebakan basi dan ngaco.
“Ah, kamu murung aja. Saya jadi ingat tebakan nih. Hoi, apa bedanya pemurung dan pemuluuuung??” Tere dengan semangat memberi tebakan.
Ina, Dewi dan Vita yang ngegerombol sama dia menjawab kompak : “Pemurung adalah orang yang tidak pernah merasa gembira, sedangkan pemulung adalah olang yang tidak pelnah melasa gembila…!”
“Yah, kok tau sih??”
“Iyalah, dari kemarin kan kamu udah ngasih tebakan itu!”
Niz jadi tertarik. Dia menghampiri mereka berempat.
“Coba tebak nih yaa… apa yang kalo pagi di dapur, kalo siang nangkring di pohon mangga?”
“Apaan? Emang ada?” Tanya Dewi.
“Ada dong.”
“Jawabannya apa?” desak Ina penasaran.
“Panci .”
“Kok panci?”
“Ya terserah dong. Panci panci saya kok…” ujar Niz kalem lalu kembali ke tempatnya.
“Wuuu…”
***
Esoknya nggak berubah seperti kemarin. Malah lebih parah, anak-anak sudah nggak ada yang minat main tebak-tebakan. Boro-boro main tebak-tebakan, bisik-bisik sama ketawa aja udah males.
Pada pelajaran kedua, biologi, bu wali kelas membawa anak baru. Namanya Ria. Langsung didudukkan di sebelah Niz,yang kebetulan penghuninya lagi nggak enak badan komplikasi panu.
“Hi! Enjoy your new class, and I am Niz, your new good and pretty friend!” Niz langsung memperkenalkan diri, sok nginggris dikit, padahal pelafalannya masih belepotan.
“Aku, Ria.” Ria dengan kalem memperkenalkan singkat dirinya, kemudian dengan tekun mengikuti pelajaran yang tengah berlangsung.
Pas istirahat, baru deh ketahuan kedok Ria yang sebenarnya. Anaknya nggak bisa diam banget. Berhubung Niz yang duduk disebelahnya, jadi mau nggak mau harus meluangkan telinganya untuk mendengar ocehan Ria. Padahal jangankan minat untuk ngobrol, mendengarkan saja udah males banget.
“Ya ampun, liat orang itu saya jadi ingat sama pacar saya yang dulu…sama-sama cowok soalnya. Dan juga…”
“Ehm, Ria, bisa nggak, nggak ngomongin orang gitu?” Niz menyela pembicaraan Ria. “Saya takut jadi ikut ngomongin orang juga…”
“Oh iya, saya lupa. Ini bulan puasa ya. Makasih udah ingatkan. Kalo kucing boleh kan? Kucing tetangga saya waktu di rumah lama itu, lucu banget. Masa punya empat kaki? Tapi pemiliknya itu lho. Sombong banget. Baru segitu aja udah sombong sampe segitunya. Huh. Trus…”
Ya ampun! Niz lebih memilih untuk kembali menekuni buku biologi yang sempet-sempetnya dibuka dalam waktu istirahat.
Pulang sekolah, Niz pulang naik bus kota bareng Ria, karena setelah ditelusuri menggunakan jasa pet detective, rumah Ria ternyata searah sama rumah Niz.
Di bus, mereka berdua syukur Alhamdulillah, dapat tempat kosong. Jadi bisa duduk manis memandangi pemandangan jalan yang berdebu. Ria kembali mengoceh nggak berhenti-berhenti kecuali kalo kepalanya kejeduk akibat dari ulah supir yang rada ugal-ugalan.
“Oh ya, Niz. Kita ke mall yuk?”
“Ke mall?” ulang Niz. Sebenernya males banget, pengen langsung ke rumah dan leyeh-leyeh sampai waktu berbuka puasa.
“Iya, ke mall. Kemaren saya lihat baju bagus banget. Tenang aja, saya beliin kamu sesuatu deh!”
Wow, bakal dibeliin nih! Sorak Niz dalam hati. Tapi…siang ini panas banget. Enaknya sih di rumah, tidur siang sampai magrib.
“Tapi…”
Dan Ria kembali membujuk Niz, dan akhirnya, entah bagaimana caranya, mereka berdua turun di depan sebuah mall.
Di dalam mall, naluri shopaholic Ria menjadi-jadi. Dengan semangat ’45, anak itu menyeret Niz yang lemes mengobrak abrik toko-toko baju. Seakan nggak puas di satu toko, dia kembali mangajak Niz keluar masuk toko. Nggak dapat yang dia cari, malah kembali ke toko pertama. Niz keki berat. Kemudian, Ria ngajak muter-muterin mall, nyari barang baru.
Setelah kaki Niz rasanya mau patah saking pegelnya menemani Ria belanja, Ria memenuhi janjinya pada Niz. Dia membelikan Niz beberapa aksesori rambut dan sebuah topi keren.
“Oh my god, Niz. Kamu lemes banget. Ayok kita makan dulu. Saya traktir,”
“Tapi, saya kan puasa!”
“Nggak. Kamu kelihatan lemes, saya takut kamu malah jadi sakit. Ayolah.” Ria terus membujuk.
Niz mikir. Dia emang udah lemes dan nyaris dehidrasi. Terus dia juga membayangkan suasana buka puasa di rumahnya. Bapaknya kerja, kalo buka puasa di luar. Ibunya juga orang sibuk. Sedang adiknya, si Lili suka nggak peduli sama Niz.
Sedangkan Ria terus membujuk sampai bibirnya kering. Dan akhirnya Niz terbujuk rayuan pulau kelapa si Ria, dan sekarang harus tabah kembali diseret Ria masuk ke food court.
***
Sampai di rumah sudah sore. Bentar lagi azan magrib menggema.
“Niz, kamu dari mana saja? Itu ibu udah bikinin kamu pudding mangga. Kata Lili, kamu paling suka makan mangga.” sambut ibunya di dapur.
“Yoyoy, Niz. Tadi Lili ke supermarket sama ibu, Lili beliin cokelat tuh, di meja.” tambah Lili.
Niz melirik ke meja makan. Benar saja, sebatang cokelat Cadbury kesukaannya bertengger manis disitu.
Tak lama, bapaknya datang. Membawa ayam goreng Kentucky, lagi-lagi kesukaan Niz.
“Lho, bapak tumben pulang cepat?”
“Sekali-sekali nggak apa-apa dong. Pengen buka puasa di rumah,” kata bapak. “Kalian semua masih puasa kan?”
“Masih dong!” sambar Lili cepat.
Sedangkan Niz tentu saja nggak ngaku kalo puasanya batal. Ya Allah, nyesel banget dia hari ini.
Azan magrib berkumandang. Tapi Niz nggak menyerbu meja makan dengan semangat seperti Lili. Dia mengeluarkan hapenya, menelpon Ria.
“Sialan kamu, Ria!!!”
Lalu cepat-cepat dimatikan hapenya.
Senin, 02 Agustus 2010
perkenalan sama guru baru
Hmm, guru baru, apalagi yang masih muda, seger dan baru lulus kuliah, biasanya nggak galak-galak amat dan masih malu-malu kalo ngajar. Seperti juga guru baru yang nyelonong masuk ke kelas Niz.
Nama gurunya, Renny Larasati. Ngajar matematika. Alhamdulillah, batin Niz. Guru matematikanya kayaknya nggak galak deh. Orangnya asli jawa, berperawakan kecil (teman-teman sekelas rata-rata lebih tinggi dari si guru baru), suaranya pelan dan hanya disetel pada volume terendah sepertinya. Jadi Niz dan kawan-kawan harus pasang telinga baik-baik untuk dengar perkenalan darinya. Namanya juga hari pertama, jadi diisi dengan berbasa yang sangat basi, tidak langsung diisi dengan hitung-hitungan menyengsarakan otak.
Tapi sia-sia usaha Niz dengan pasang telinga baik-baik. Suara guru barunya ini tertelan sama keriuhan yang diciptakan dengan penuh kesadaran oleh teman-teman dari spesies cowok. Nggak ngehargain amat.
“Hmm, ada yang mau ditanya lagi?” Bu Renny mempersilahkan dengan hormat murid-muridnya untuk ngorek-ngorek lebih jauh.
“Status! Status! Single apa single parent!” teriak yang di pojok. Ah, mentang-mentang guru baru jadi seenaknya aja pertanyaannya. Coba kalo yang masuk guru senior bertampang dingin. Wiw. Beku.
“Nomor hape!”
“Nomor sepatu?”
“Alamat!”
“Status…” muka si guru baru memerah. “Single dong. Ada yang tertarik?”
“Wuuu…!!” seru yang cowok keki.
“Berlebihan. Nomor hape, ah itu terlalu privasi. Ga usah ya. Ada yang kecewa? Kalo nomor sepatu…emang ada yang mau ngebeliin saya sepatu? Alamat, yang di jawa apa yang di Sorong?”
“Yang di amerika deh pastinya.” Ujar yang di bagian tengah sedikit keki.
“Kalo yang di Sorong, tuh di depan situ.”
“Yang di jawa?” Tanya cowok yang mukanya jawa banget. Joko namanya.
“Di Klaten. Mau main kesana?”
Bu guru itu langsung ngomong ngomong dan ngomong. Mengenai kuliahnya yang biasa aja, sampai cita-cita masa kecilnya yang tertunda. Jadi astronot, katanya. Mengenai dirinya yang baru kali ini menginjak tanah Sorong, tambah kerinduan akan kampung halaman. Semuanya deh. Tapi cerita itu lagi-lagi tertelan sama keributan dari makhluk-makhluk cowok yang malah asyik ngerumpi kesana kemari layaknya ibu-ibu PKK lagi arisan.*What? Ibu-ibu?*
Kemudian, dengan niat tulus ikhlas pengen tau lebih jauh tentang murid-muridnya yang manis-manis ini, bu Renny mulai mengabsen dan nanya darimana asalnya.
“Aji Wahyu Setianto?”
Yang punya nama angkat tangan. Untung nggak angkat barbell. Kan berat.
“Asalnya?”
“Dari…dari…Jawa bu!”
“Oh… lanjut ya. And..and…?? gimana nih bacanya?” Bu Renny nanya sama yang duduk di depan.
“Bambang, bacanya bu!” sahut yang ditanya ngasal.
“Andre bu!” sahut yang dibelakang, empunya nama.
“Oh iyah, maaf. Andrew…euh, Putt..ti..leihalat?” Bu Renny tampak kewalahan dengan namanya, yang sebenernya sih nggak susah-susah amat dibaca. Tapi yah…namanya juga orang yang baru nginjak tanah timur. Nama-nama marga seperti itu jarang ditemui di tempat asalnya.
Kemudian lanjut terus…
“Soni P. Butar-Butar?” Bu Renny balik badan sambil nutup mulutnya pake daftar absen. Mau ngakak sepuas-puasnya. Wah. Penghinaan.
Usai membaca daftar absen dengan penuh perjuangan, maklum, teman-teman Niz namanya ajaib-ajaib dan panjang-panjang, bu Renny kemudian menyuruh semua siswa mengeluarkan selembar kertas kosong. Ulangan? Ih mana mungkin. Belajar aja belum. Masa iya ulangan tentang nama-nama siswa? Nggak ada hubungannya dengan matematika…tapi berhubungan dengan fisika. Halah.
“Oke. Diantara kalian, siapa yang suka matematika?”
Nggak ada yang angkat tangan.
“Saya suka kok. Tapi kalo nggak ada gurunya,” ujar Niz.
“Kalo yang nggak suka?”
Nggak ada yang angkat tangan. Pada nggak mau ngaku.
“Baiklaaah. Kalo gitu, tuliskan di kertas kosong, pendapat kalian tentang matematika, juga saran kedepannya gimana. Ini bisa buat referensi saya dalam mengajar.”
Niz yang hobi ngarang dengan pensil yang sehitam arang, sampai nggak sadar tangannya dikitik-kitik sama semut rang-rang, kesenengan. Selembar kertas diisiinya penuh dengan kata-kata dan bukan gambar apalagi animasi. Iyalah. Sampai-sampai diceritakan juga pengalaman nggak mengenakkan sama anjing tetangga di mulut gang. Hii, nggak nyambung. Tapi biarkanlah nggak nyambung, seenggaknya Niz bahagia dengan cara itu. Halah.
Lalu saat tiba masanya kertas-kertas itu dikumpul, Bu Renny segera berkeliling kelas, merebut paksa kertas-kertas dari tangan murid. Sebagian menyerahkan dengan tulus ikhlas, sisanya masih berusaha buat nutupin.
Niz menyerahkan dengan rela tulisan tangannya yang awut-awutan. Meski hobi ngarang, tapi Niz nggak pernah bisa bikin tulisannya rada bagusan dikit. Bahkan cakar ayam pun masih jauh lebih jelek dari tulisannya. Mana tulisannya kecil-kecil dan rapat, dan hampir seluruh kertas ditulisinya dengan semangat ’45.
“Ya ampun. Panjang sekali. Seperti kereta api mainan anak-anak,” gumam Bu Renny. “kamu cocok jadi penulis…kwitansi.”
Niz nyengir di bangkunya.
Nama gurunya, Renny Larasati. Ngajar matematika. Alhamdulillah, batin Niz. Guru matematikanya kayaknya nggak galak deh. Orangnya asli jawa, berperawakan kecil (teman-teman sekelas rata-rata lebih tinggi dari si guru baru), suaranya pelan dan hanya disetel pada volume terendah sepertinya. Jadi Niz dan kawan-kawan harus pasang telinga baik-baik untuk dengar perkenalan darinya. Namanya juga hari pertama, jadi diisi dengan berbasa yang sangat basi, tidak langsung diisi dengan hitung-hitungan menyengsarakan otak.
Tapi sia-sia usaha Niz dengan pasang telinga baik-baik. Suara guru barunya ini tertelan sama keriuhan yang diciptakan dengan penuh kesadaran oleh teman-teman dari spesies cowok. Nggak ngehargain amat.
“Hmm, ada yang mau ditanya lagi?” Bu Renny mempersilahkan dengan hormat murid-muridnya untuk ngorek-ngorek lebih jauh.
“Status! Status! Single apa single parent!” teriak yang di pojok. Ah, mentang-mentang guru baru jadi seenaknya aja pertanyaannya. Coba kalo yang masuk guru senior bertampang dingin. Wiw. Beku.
“Nomor hape!”
“Nomor sepatu?”
“Alamat!”
“Status…” muka si guru baru memerah. “Single dong. Ada yang tertarik?”
“Wuuu…!!” seru yang cowok keki.
“Berlebihan. Nomor hape, ah itu terlalu privasi. Ga usah ya. Ada yang kecewa? Kalo nomor sepatu…emang ada yang mau ngebeliin saya sepatu? Alamat, yang di jawa apa yang di Sorong?”
“Yang di amerika deh pastinya.” Ujar yang di bagian tengah sedikit keki.
“Kalo yang di Sorong, tuh di depan situ.”
“Yang di jawa?” Tanya cowok yang mukanya jawa banget. Joko namanya.
“Di Klaten. Mau main kesana?”
Bu guru itu langsung ngomong ngomong dan ngomong. Mengenai kuliahnya yang biasa aja, sampai cita-cita masa kecilnya yang tertunda. Jadi astronot, katanya. Mengenai dirinya yang baru kali ini menginjak tanah Sorong, tambah kerinduan akan kampung halaman. Semuanya deh. Tapi cerita itu lagi-lagi tertelan sama keributan dari makhluk-makhluk cowok yang malah asyik ngerumpi kesana kemari layaknya ibu-ibu PKK lagi arisan.*What? Ibu-ibu?*
Kemudian, dengan niat tulus ikhlas pengen tau lebih jauh tentang murid-muridnya yang manis-manis ini, bu Renny mulai mengabsen dan nanya darimana asalnya.
“Aji Wahyu Setianto?”
Yang punya nama angkat tangan. Untung nggak angkat barbell. Kan berat.
“Asalnya?”
“Dari…dari…Jawa bu!”
“Oh… lanjut ya. And..and…?? gimana nih bacanya?” Bu Renny nanya sama yang duduk di depan.
“Bambang, bacanya bu!” sahut yang ditanya ngasal.
“Andre bu!” sahut yang dibelakang, empunya nama.
“Oh iyah, maaf. Andrew…euh, Putt..ti..leihalat?” Bu Renny tampak kewalahan dengan namanya, yang sebenernya sih nggak susah-susah amat dibaca. Tapi yah…namanya juga orang yang baru nginjak tanah timur. Nama-nama marga seperti itu jarang ditemui di tempat asalnya.
Kemudian lanjut terus…
“Soni P. Butar-Butar?” Bu Renny balik badan sambil nutup mulutnya pake daftar absen. Mau ngakak sepuas-puasnya. Wah. Penghinaan.
Usai membaca daftar absen dengan penuh perjuangan, maklum, teman-teman Niz namanya ajaib-ajaib dan panjang-panjang, bu Renny kemudian menyuruh semua siswa mengeluarkan selembar kertas kosong. Ulangan? Ih mana mungkin. Belajar aja belum. Masa iya ulangan tentang nama-nama siswa? Nggak ada hubungannya dengan matematika…tapi berhubungan dengan fisika. Halah.
“Oke. Diantara kalian, siapa yang suka matematika?”
Nggak ada yang angkat tangan.
“Saya suka kok. Tapi kalo nggak ada gurunya,” ujar Niz.
“Kalo yang nggak suka?”
Nggak ada yang angkat tangan. Pada nggak mau ngaku.
“Baiklaaah. Kalo gitu, tuliskan di kertas kosong, pendapat kalian tentang matematika, juga saran kedepannya gimana. Ini bisa buat referensi saya dalam mengajar.”
Niz yang hobi ngarang dengan pensil yang sehitam arang, sampai nggak sadar tangannya dikitik-kitik sama semut rang-rang, kesenengan. Selembar kertas diisiinya penuh dengan kata-kata dan bukan gambar apalagi animasi. Iyalah. Sampai-sampai diceritakan juga pengalaman nggak mengenakkan sama anjing tetangga di mulut gang. Hii, nggak nyambung. Tapi biarkanlah nggak nyambung, seenggaknya Niz bahagia dengan cara itu. Halah.
Lalu saat tiba masanya kertas-kertas itu dikumpul, Bu Renny segera berkeliling kelas, merebut paksa kertas-kertas dari tangan murid. Sebagian menyerahkan dengan tulus ikhlas, sisanya masih berusaha buat nutupin.
Niz menyerahkan dengan rela tulisan tangannya yang awut-awutan. Meski hobi ngarang, tapi Niz nggak pernah bisa bikin tulisannya rada bagusan dikit. Bahkan cakar ayam pun masih jauh lebih jelek dari tulisannya. Mana tulisannya kecil-kecil dan rapat, dan hampir seluruh kertas ditulisinya dengan semangat ’45.
“Ya ampun. Panjang sekali. Seperti kereta api mainan anak-anak,” gumam Bu Renny. “kamu cocok jadi penulis…kwitansi.”
Niz nyengir di bangkunya.
tetangga belakang
Niz, kalau di sekolah selalu jadi primadona, apalagi kalo pas jam pelajaran sedang berlangsung.
Bukannya apa, tapi Niz ini ibarat kata adalah toko stasioneri berjalan, bisa ngomong dan bisa kentut. Macam pensil, di tasnya selalu ada rupa-rupa pensil. Pensil warna, pensil ujian, pensil yang belum diraut, pensil yang udah tumpul, pensil patah, sampai pensil bulukan yang panjangnya tinggal sesenti. Soal ini, Niz sempat memberi komentar suatu ketika.
“Itu pensil kenangan. Pensil pertama yang saya colong,”
Selain pensil, kalau kalian butuh pena, penghapus, tipeks, rautan, penggaris dan teman sejawatnya, datanglah pada Niz. Dengan muka masam pasti dia akan meminjamkan kok. Hehehe. Nggak kok. Niz dengan senang hati akan meminjamkan, tentu dengan wanti-wanti seperti ini,
“Jangan sampai hilang.”
“Jangan pinjamkan ke orang lain.”
“Jangan sampe lupa kembaliin. Ntar kebawa,”
“Jangan dipake!”
Nah kalau ditanya siapa yang paling sering bikin Niz kesel tentang peminjaman alat tulis ini, jawabannya adalah tetangga belakangnya, siapa lagi kalau bukan Yeyen. Entah sudah berapa pensil dan alat tulis lain yang ilang gara-gara ulah anak ini. Niz jadi kesel banget. Mana kerjaannya tiap menit cuma nusuk-nusuk pinggang Niz, kadang pake jangka malah, buat pinjam macem-macem. Tapi lebih sering nggak dikembaliin. Nggak tau dibawa pulang buat dijual lagi, atau ternyata dia memang kolektor benda curian. Hii.
Seperti kali ini. Niz yang tengah asyik meratiin semut yang merayap di dinding pas di sebelahnya ketika teman-temannya yang lain sibuk dengan angka-angka matematika, dikagetkan dengan tusukan pensil yang diraut tajem banget nggak berperikemanusiaan dari Yeyen.
“Aow!”
“Niz, pinjam penghapus dong!” Tuh kan! Yeyen dengan muka nggak bersalahnya meminta penghapus.
Niz bersungut-sungut sambil membuka tempat pensilnya yang gede banget, mengambil penghapus dan melemparnya ke belakang. Alhamdulillah, jatuh tepat di kepala Randy yang lagi pulas tertidur, yang posisinya di belakang Yeyen. Wah. Pembalasan nih si Niz.
“Ah, ngga ikhlas kamu Niz…” sungut Yeyen.
Gimana bisa ikhlas, coba! Batin Niz keki.
Benar saja, sampai jam pulang, penghapus Niz yang malang tidak kembali ke tangan sang empunya. Nyasar entah kemana.
Esoknya, Niz dengan langkah kaki yang digagah-gagahkan berjalan melenggang memasuki kelasnya. Iyalah, masa kelas adeknya, si Lili? Hihihi. Ada apa gerangan?
“Woy, Niz! Mau jadi polwan ya? Jalan kamu gagah banget!” seru Joko.
“Nggak kok. Mau jadi polisi hutan,” jawab Niz.
“Hihihihi,” kikik si item Joko.
Jam pertama, bahasa Indonesia.
Baru setengah pelajaran berlangsung, pinggang Niz kembali ditusuk-tusuk sama Yeyen.
“Niz, pinjam pena dong!”
“Lihat nih,” ujar Niz tenang sambil menunjuk bagian belakang sandaran kursinya, tepat di depan muka Yeyen.
Yeyen bengong. Disitu tertempel tulisan besar-besar,
“HOBI PINJAM NGGAK HOBI KEMBALIIN, SEJUTA TOPAN BADAI!!!”
Bukannya apa, tapi Niz ini ibarat kata adalah toko stasioneri berjalan, bisa ngomong dan bisa kentut. Macam pensil, di tasnya selalu ada rupa-rupa pensil. Pensil warna, pensil ujian, pensil yang belum diraut, pensil yang udah tumpul, pensil patah, sampai pensil bulukan yang panjangnya tinggal sesenti. Soal ini, Niz sempat memberi komentar suatu ketika.
“Itu pensil kenangan. Pensil pertama yang saya colong,”
Selain pensil, kalau kalian butuh pena, penghapus, tipeks, rautan, penggaris dan teman sejawatnya, datanglah pada Niz. Dengan muka masam pasti dia akan meminjamkan kok. Hehehe. Nggak kok. Niz dengan senang hati akan meminjamkan, tentu dengan wanti-wanti seperti ini,
“Jangan sampai hilang.”
“Jangan pinjamkan ke orang lain.”
“Jangan sampe lupa kembaliin. Ntar kebawa,”
“Jangan dipake!”
Nah kalau ditanya siapa yang paling sering bikin Niz kesel tentang peminjaman alat tulis ini, jawabannya adalah tetangga belakangnya, siapa lagi kalau bukan Yeyen. Entah sudah berapa pensil dan alat tulis lain yang ilang gara-gara ulah anak ini. Niz jadi kesel banget. Mana kerjaannya tiap menit cuma nusuk-nusuk pinggang Niz, kadang pake jangka malah, buat pinjam macem-macem. Tapi lebih sering nggak dikembaliin. Nggak tau dibawa pulang buat dijual lagi, atau ternyata dia memang kolektor benda curian. Hii.
Seperti kali ini. Niz yang tengah asyik meratiin semut yang merayap di dinding pas di sebelahnya ketika teman-temannya yang lain sibuk dengan angka-angka matematika, dikagetkan dengan tusukan pensil yang diraut tajem banget nggak berperikemanusiaan dari Yeyen.
“Aow!”
“Niz, pinjam penghapus dong!” Tuh kan! Yeyen dengan muka nggak bersalahnya meminta penghapus.
Niz bersungut-sungut sambil membuka tempat pensilnya yang gede banget, mengambil penghapus dan melemparnya ke belakang. Alhamdulillah, jatuh tepat di kepala Randy yang lagi pulas tertidur, yang posisinya di belakang Yeyen. Wah. Pembalasan nih si Niz.
“Ah, ngga ikhlas kamu Niz…” sungut Yeyen.
Gimana bisa ikhlas, coba! Batin Niz keki.
Benar saja, sampai jam pulang, penghapus Niz yang malang tidak kembali ke tangan sang empunya. Nyasar entah kemana.
Esoknya, Niz dengan langkah kaki yang digagah-gagahkan berjalan melenggang memasuki kelasnya. Iyalah, masa kelas adeknya, si Lili? Hihihi. Ada apa gerangan?
“Woy, Niz! Mau jadi polwan ya? Jalan kamu gagah banget!” seru Joko.
“Nggak kok. Mau jadi polisi hutan,” jawab Niz.
“Hihihihi,” kikik si item Joko.
Jam pertama, bahasa Indonesia.
Baru setengah pelajaran berlangsung, pinggang Niz kembali ditusuk-tusuk sama Yeyen.
“Niz, pinjam pena dong!”
“Lihat nih,” ujar Niz tenang sambil menunjuk bagian belakang sandaran kursinya, tepat di depan muka Yeyen.
Yeyen bengong. Disitu tertempel tulisan besar-besar,
“HOBI PINJAM NGGAK HOBI KEMBALIIN, SEJUTA TOPAN BADAI!!!”
Kamis, 22 Juli 2010
Sekolahku, Surgaku
saya punya cerpen nih. dulunya bikin buat tugas matematika. daripada disimpan di laptop terus, lama-lama berdebu, mendingan saya posting disini. selamat menikmati!
============
inar matahari pagi yang silau menelusup masuk lewat jendela kamarku yang bertirai putih. Sementara jam beker tergeletak di lantai, setelah menunaikan tugasnya dan ku lempar karena kesal.
Mataku berkerinyit menahan silau. Tapi bukannya bangun, aku malah menarik lagi selimutku hingga menutupi kepala. Kemudian, ketukan halus berulang-ulang terdengar.
“Irwan…Irwan..bangun, sudah siang. Kamu harus sekolah!” itu suara Ibu.
Dengan malas, aku melempar selimut yang tadinya menutupi tubuhku hingga jatuh ke lantai.
Sekolah! Huh, itu kewajibanku yang aku tak tahu apa manfaatnya. Yah, mungkin manfaatnya hanya untuk mendengar ceramahan guru, mengerjakan tugas, mendapat hukuman spesial pakai cubit. Yang menyenangkan dari sekolah hanya satu : berkumpul dan bercanda bersama teman. Lainnya? Neraka! Sekolah itu menyeramkan dan membosankan. Tempat kita duduk terpaku mendengar ceramahan guru yang tiada habisnya. Tempat kita terkekang oleh seribu satu aturan layaknya dipenjara.
Itulah sebabnya mengapa aku malas pergi ke sekolah.
“Irwan! Cepat mandi dan berangkat sekolah!” seru Ibu dari balik pintu, mengagetkanku yang tengah termenung.
“Iya, Bu!” dengan ogah-ogahan, aku manuju kamar mandi.
Beberapa puluh menit kemudian, aku sudah sampai di sekolah. Tentunya dengan wajah yang sama sekali tidak bersemangat. Aku memperhatikan wajah-wajah yang memenuhi ruang kelasku pagi ini. Rata-rata menampakkan wajah yang cerah bersemangat. Yang terlihat tidak bersemangat mungkin hanya aku dan beberapa yang lain.
Aku meletakkan tasku dan duduk di tempatku. Aku melirik teman sebangkuku. Farhan. Temanku yang satu itu pikirannya beda denganku. Dia menganggap sekolah layaknya surga, disaat aku menganggap sekolah itu seperti neraka. Dia bilang, sekolah itu menyenangkan. Hah? Menyenangkan dari mana?
Bel tanda pelajaran pertama dimulai, berbunyi. Beberapa saat kemudian, Pak Anton, guru fisika yang terkenal killer , masuk.
Dengan mengucapkan salam dingin kepada kami, Pak Anton memulai pelajaran. Menjelaskan panjang lebar dengan menunjuk-nunjuk papan tulis yang dipenuhi rumus-rumus yang memusingkan. Sumpah, tak ada satupun pelajaran yang kuserap dengan baik. Aku malah semakin mengantuk.
Beberapa puluh menit kemudian, pelajaran fisika berakhir. Pak Anton memberi pesan, “Oke, anak-anak. Belajar yang rajin, terutama mengenai molekul atom. Minggu depan ulangan. Selamat pagi,” kemudian meninggalkan ruang kelas.
Ulangan!! Ini dia salah satu hal menyebalkan lainnya. Aku mengutuk sepenuh hati. Makin malaslah aku ke sekolah kalau seperti ini.
Satu-satunya waktu yang menyenangkan di sekolah adalah waktu istirahat. Saat sejenak penat usai belajar dilupakan, dengan berkumpul dan bercanda dengan teman-teman, dengan memanjakan lidah dengan jajan di kantin.
Ketika tengah menikmati saat-saat bebas seperti ini, bel masuk berbunyi. Huuft… teman-teman lain bergegas masuk ke kelas, tetapi aku tidak ingin masuk kelas. Aku duduk sendirian di kantin. Kali ini aku mau membolos.
Tiba-tiba, tiga orang anak kelas tiga yang terkenal bandel, mendatangiku.
“Hei, siapa lo? Ngebolos juga lo?” Tanya seorang cowok yang memakai anting ditelinganya. Dia adalah Kak Alex.
“I-i-iya, Kak. Sa..saya lagi malas belajar,” jawabku takut-takut.
“Ya udah, lo gabung sama kita aja. Siapa nama lo?”
“Saya Irwan, Kak. Anak kelas 2-IPA 2,”
“Sopan banget lo, pake saya-saya,” komentar cowok lain, yang bernama Kak Danu.
“Disini ga enak. Kita ke tempat biasa aja,” ajak Kak Alex. Aku mengikutinya, begitu juga dengan dua temannya.
‘Tempat biasa’ yang dimaksud Kak Alex ternyata adalah sebuah tempat kumuh dan jorok di belakang gudang sekolah. Aku bergidik melihat tempat itu.
“Nah, lo duduk disini,” Kak Alex mempersilahkanku duduk di sebuah tumpukan kayu bekas bahan bangunan. Sedangkan dia dan dua temannya duduk di sebuah kursi kayu panjang. Mereka mengeluarkan sebungkus rokok dan sebuah korek api.
“Kenapa lo ngebolos? Gua ga pernah ngeliat lo bolos sebelumnya,” tanya Kak Alex sambil memantik api. Aku menarik napas.
“Saya malas belajar, Kak. Bosan.”
“Alasan lain?”
“Saya…saya ngerasa sekolah itu tempat yang kayak neraka. Menyeramkan dan membosankan. Saya juga bingung, buat apa sebenarnya saya sekolah. Saya ngerasa, saya sekolah cuma untuk ortu saya saja,”
“Hmm, kita sama. Jadi biar lo ga pusing, lo cobain ini,” Kak Alex menyodorkan sebatang rokok. Aku tertegun melihat benda itu.
“Ayo, ambil,” desak teman Kak Alex, yang bernama Kak Rio.
“Nggak usah Kak. Makasih,”
“Ah, sok suci lo. Cobain aja,” Kak Alex setengah memaksa. Dengan terpaksa, aku ambil rokok itu.
“Nih, koreknya.” Kak Danu melemparkan korek api.
Aku memantik api, dan membakar rokok itu. Dengan ragu, aku mulai mengisapnya.
“Uhuk..uhuk..” aku terbatuk-batuk. Dengan spontan, rokok itu kubuang.
“Hahahahaha…gitu doang bengek. Anak mami, lo, ya,”
“Saya nggak tahan Kak,”
“Pelan-pelan juga lo pasti ketagihan,”
Suasana di belakang gudang itu sangat tidak nyaman. Kotor dan kumuh. Tapi kenapa Kak Alex dan kawan-kawan betah sekali bolos di tempat ini? Dan aku pun, lama-lama jadi terbiasa dengan suasana itu, dan menikmati mengobrol dengan mereka.
Bel tanda palajaran selanjutnya akan dimulai, berbunyi nyaring. Aku bergegas meninggalkan tempat itu.
“Maaf, Kak, saya harus kembali ke kelas,” pamitku.
“Ya udah, belajar lagi sana..hahahaha..”
Kembali ke kelas, kembali ke tempat yang membosankan. Teman-teman sekelasku tampak heran melihatku yang baru masuk kelas.
“Dari mana kamu, Wan?” tanya Farhan.
“Bolos,”
“Hah, bolos?” Farhan kaget.
“Sst…jangan keras-keras,” sahutku agak panik. Tepat pada saat Bu Ratih yang mengajar Bahasa Inggris memasuki ruangan.
***
Esoknya, aku berniat membolos lagi.
Dan seperti yang sudah kuduga, Kak Alex dan teman-temannya menghampiriku lagi saat di kantin. Sekarang aku sudah tidak merasa canggung lagi dengan mereka. Hanya saja, aku masih tidak tahan merokok.
Kami berkumpul lagi di belakang gudang sekolah. Sekarang tempat itu sudah tak tampak sejorok kemarin. Aku dan teman-teman baruku ini mengobrol dengan seru.
“Oh, jadi disini kalian membolos? Ayo, kalian semua ikut Bapak ke kantor!” kami dikagetkan oleh suara berat Pak Hasan. Kami sudah tak berkutik lagi. Dengan pasrah, kami digiring Pak Hasan ke kantor.
Di kantor, kami diceramahi habis-habisan oleh Pak Hasan. Plus dengan peringatan, sekali lagi kami membolos, maka orang tua akan dipanggil oleh pihak sekolah.
Saat jam pulang, aku dipanggil oleh Bu Siti, guru agama Islam yang juga sebagai tempat curhat para murid di sekolah. Bu Siti terkenal akan kesabarannya dalam menghadapi anak-anak nakal.
“Irwan, kenapa kamu membolos?” tanya Bu Siti lembut. Aku menceritakan alasan-alasanku.
“Oh, begitu ya? Sekarang Ibu mau tanya. Selama ini kamu sekolah karena siapa? Apa yang kamu cari?”
“Saya…mungkin sekolah karena orang tua saya. Pastinya saya sekolah ingin mancari ilmu, Bu,” kalimat terakhirku merupakan jawaban standar dari pertanyaan itu.
“Ketika kamu berangkat ke sekolah, sebenarnya kamu itu sekolah karena Allah. Allah yang Maha Berilmu. Ketika kamu mendapat ilmu, bukankah kamu merasa senang? Kamu merasa senang karena kamu sedang mendekat kepada Allah Al-Alim. Jadi, bila kamu mangabaikan sekolah, sebenarnya siapa yang kamu abaikan?”
Aku tersentak mendengar kata-kata Bu Siti.
“Irwan, sekolah itu bisa menjadi surga karena kamu dapat menciptakan surga di sekolah. Ketika kamu menciptakan kasih sayang di sekolah, kamu sedang dekat dengan Allah. Ketika belajar, kamu sedang dekat dengan Allah Al-Alim. Dan ketika kamu sedang belajar matematika, kamu sedang mendekatkan diri kepada Al-Hasib, yang Maha Berhitung.”
“Jadi…bila saya belajar, saya sedang dekat dengan Allah, ya Bu?”
“Iya. Mulai saat ini, jangan lagi kamu malas sekolah karena Allah Al-Alim memberikan ilmu kepadamu melalui guru-gurumu. Ingat ini. Jadikan jalanan menjadi sajadahmu, buku dan pulpen menjadi tasbihmu.”
“Oh...” aku tertunduk dalam. Aku memikirkan, berapa kali aku mengabaikan sekolah, berapa kali aku tak ingin menerima pelajaran?? Sebenarnya, di saat itu aku menjauh dari Allah!!
“Iya, Bu. Mulai sekarang: sekolahku, surgaku.” kataku mantap. Bu Siti tersenyum lega.
============
inar matahari pagi yang silau menelusup masuk lewat jendela kamarku yang bertirai putih. Sementara jam beker tergeletak di lantai, setelah menunaikan tugasnya dan ku lempar karena kesal.
Mataku berkerinyit menahan silau. Tapi bukannya bangun, aku malah menarik lagi selimutku hingga menutupi kepala. Kemudian, ketukan halus berulang-ulang terdengar.
“Irwan…Irwan..bangun, sudah siang. Kamu harus sekolah!” itu suara Ibu.
Dengan malas, aku melempar selimut yang tadinya menutupi tubuhku hingga jatuh ke lantai.
Sekolah! Huh, itu kewajibanku yang aku tak tahu apa manfaatnya. Yah, mungkin manfaatnya hanya untuk mendengar ceramahan guru, mengerjakan tugas, mendapat hukuman spesial pakai cubit. Yang menyenangkan dari sekolah hanya satu : berkumpul dan bercanda bersama teman. Lainnya? Neraka! Sekolah itu menyeramkan dan membosankan. Tempat kita duduk terpaku mendengar ceramahan guru yang tiada habisnya. Tempat kita terkekang oleh seribu satu aturan layaknya dipenjara.
Itulah sebabnya mengapa aku malas pergi ke sekolah.
“Irwan! Cepat mandi dan berangkat sekolah!” seru Ibu dari balik pintu, mengagetkanku yang tengah termenung.
“Iya, Bu!” dengan ogah-ogahan, aku manuju kamar mandi.
Beberapa puluh menit kemudian, aku sudah sampai di sekolah. Tentunya dengan wajah yang sama sekali tidak bersemangat. Aku memperhatikan wajah-wajah yang memenuhi ruang kelasku pagi ini. Rata-rata menampakkan wajah yang cerah bersemangat. Yang terlihat tidak bersemangat mungkin hanya aku dan beberapa yang lain.
Aku meletakkan tasku dan duduk di tempatku. Aku melirik teman sebangkuku. Farhan. Temanku yang satu itu pikirannya beda denganku. Dia menganggap sekolah layaknya surga, disaat aku menganggap sekolah itu seperti neraka. Dia bilang, sekolah itu menyenangkan. Hah? Menyenangkan dari mana?
Bel tanda pelajaran pertama dimulai, berbunyi. Beberapa saat kemudian, Pak Anton, guru fisika yang terkenal killer , masuk.
Dengan mengucapkan salam dingin kepada kami, Pak Anton memulai pelajaran. Menjelaskan panjang lebar dengan menunjuk-nunjuk papan tulis yang dipenuhi rumus-rumus yang memusingkan. Sumpah, tak ada satupun pelajaran yang kuserap dengan baik. Aku malah semakin mengantuk.
Beberapa puluh menit kemudian, pelajaran fisika berakhir. Pak Anton memberi pesan, “Oke, anak-anak. Belajar yang rajin, terutama mengenai molekul atom. Minggu depan ulangan. Selamat pagi,” kemudian meninggalkan ruang kelas.
Ulangan!! Ini dia salah satu hal menyebalkan lainnya. Aku mengutuk sepenuh hati. Makin malaslah aku ke sekolah kalau seperti ini.
Satu-satunya waktu yang menyenangkan di sekolah adalah waktu istirahat. Saat sejenak penat usai belajar dilupakan, dengan berkumpul dan bercanda dengan teman-teman, dengan memanjakan lidah dengan jajan di kantin.
Ketika tengah menikmati saat-saat bebas seperti ini, bel masuk berbunyi. Huuft… teman-teman lain bergegas masuk ke kelas, tetapi aku tidak ingin masuk kelas. Aku duduk sendirian di kantin. Kali ini aku mau membolos.
Tiba-tiba, tiga orang anak kelas tiga yang terkenal bandel, mendatangiku.
“Hei, siapa lo? Ngebolos juga lo?” Tanya seorang cowok yang memakai anting ditelinganya. Dia adalah Kak Alex.
“I-i-iya, Kak. Sa..saya lagi malas belajar,” jawabku takut-takut.
“Ya udah, lo gabung sama kita aja. Siapa nama lo?”
“Saya Irwan, Kak. Anak kelas 2-IPA 2,”
“Sopan banget lo, pake saya-saya,” komentar cowok lain, yang bernama Kak Danu.
“Disini ga enak. Kita ke tempat biasa aja,” ajak Kak Alex. Aku mengikutinya, begitu juga dengan dua temannya.
‘Tempat biasa’ yang dimaksud Kak Alex ternyata adalah sebuah tempat kumuh dan jorok di belakang gudang sekolah. Aku bergidik melihat tempat itu.
“Nah, lo duduk disini,” Kak Alex mempersilahkanku duduk di sebuah tumpukan kayu bekas bahan bangunan. Sedangkan dia dan dua temannya duduk di sebuah kursi kayu panjang. Mereka mengeluarkan sebungkus rokok dan sebuah korek api.
“Kenapa lo ngebolos? Gua ga pernah ngeliat lo bolos sebelumnya,” tanya Kak Alex sambil memantik api. Aku menarik napas.
“Saya malas belajar, Kak. Bosan.”
“Alasan lain?”
“Saya…saya ngerasa sekolah itu tempat yang kayak neraka. Menyeramkan dan membosankan. Saya juga bingung, buat apa sebenarnya saya sekolah. Saya ngerasa, saya sekolah cuma untuk ortu saya saja,”
“Hmm, kita sama. Jadi biar lo ga pusing, lo cobain ini,” Kak Alex menyodorkan sebatang rokok. Aku tertegun melihat benda itu.
“Ayo, ambil,” desak teman Kak Alex, yang bernama Kak Rio.
“Nggak usah Kak. Makasih,”
“Ah, sok suci lo. Cobain aja,” Kak Alex setengah memaksa. Dengan terpaksa, aku ambil rokok itu.
“Nih, koreknya.” Kak Danu melemparkan korek api.
Aku memantik api, dan membakar rokok itu. Dengan ragu, aku mulai mengisapnya.
“Uhuk..uhuk..” aku terbatuk-batuk. Dengan spontan, rokok itu kubuang.
“Hahahahaha…gitu doang bengek. Anak mami, lo, ya,”
“Saya nggak tahan Kak,”
“Pelan-pelan juga lo pasti ketagihan,”
Suasana di belakang gudang itu sangat tidak nyaman. Kotor dan kumuh. Tapi kenapa Kak Alex dan kawan-kawan betah sekali bolos di tempat ini? Dan aku pun, lama-lama jadi terbiasa dengan suasana itu, dan menikmati mengobrol dengan mereka.
Bel tanda palajaran selanjutnya akan dimulai, berbunyi nyaring. Aku bergegas meninggalkan tempat itu.
“Maaf, Kak, saya harus kembali ke kelas,” pamitku.
“Ya udah, belajar lagi sana..hahahaha..”
Kembali ke kelas, kembali ke tempat yang membosankan. Teman-teman sekelasku tampak heran melihatku yang baru masuk kelas.
“Dari mana kamu, Wan?” tanya Farhan.
“Bolos,”
“Hah, bolos?” Farhan kaget.
“Sst…jangan keras-keras,” sahutku agak panik. Tepat pada saat Bu Ratih yang mengajar Bahasa Inggris memasuki ruangan.
***
Esoknya, aku berniat membolos lagi.
Dan seperti yang sudah kuduga, Kak Alex dan teman-temannya menghampiriku lagi saat di kantin. Sekarang aku sudah tidak merasa canggung lagi dengan mereka. Hanya saja, aku masih tidak tahan merokok.
Kami berkumpul lagi di belakang gudang sekolah. Sekarang tempat itu sudah tak tampak sejorok kemarin. Aku dan teman-teman baruku ini mengobrol dengan seru.
“Oh, jadi disini kalian membolos? Ayo, kalian semua ikut Bapak ke kantor!” kami dikagetkan oleh suara berat Pak Hasan. Kami sudah tak berkutik lagi. Dengan pasrah, kami digiring Pak Hasan ke kantor.
Di kantor, kami diceramahi habis-habisan oleh Pak Hasan. Plus dengan peringatan, sekali lagi kami membolos, maka orang tua akan dipanggil oleh pihak sekolah.
Saat jam pulang, aku dipanggil oleh Bu Siti, guru agama Islam yang juga sebagai tempat curhat para murid di sekolah. Bu Siti terkenal akan kesabarannya dalam menghadapi anak-anak nakal.
“Irwan, kenapa kamu membolos?” tanya Bu Siti lembut. Aku menceritakan alasan-alasanku.
“Oh, begitu ya? Sekarang Ibu mau tanya. Selama ini kamu sekolah karena siapa? Apa yang kamu cari?”
“Saya…mungkin sekolah karena orang tua saya. Pastinya saya sekolah ingin mancari ilmu, Bu,” kalimat terakhirku merupakan jawaban standar dari pertanyaan itu.
“Ketika kamu berangkat ke sekolah, sebenarnya kamu itu sekolah karena Allah. Allah yang Maha Berilmu. Ketika kamu mendapat ilmu, bukankah kamu merasa senang? Kamu merasa senang karena kamu sedang mendekat kepada Allah Al-Alim. Jadi, bila kamu mangabaikan sekolah, sebenarnya siapa yang kamu abaikan?”
Aku tersentak mendengar kata-kata Bu Siti.
“Irwan, sekolah itu bisa menjadi surga karena kamu dapat menciptakan surga di sekolah. Ketika kamu menciptakan kasih sayang di sekolah, kamu sedang dekat dengan Allah. Ketika belajar, kamu sedang dekat dengan Allah Al-Alim. Dan ketika kamu sedang belajar matematika, kamu sedang mendekatkan diri kepada Al-Hasib, yang Maha Berhitung.”
“Jadi…bila saya belajar, saya sedang dekat dengan Allah, ya Bu?”
“Iya. Mulai saat ini, jangan lagi kamu malas sekolah karena Allah Al-Alim memberikan ilmu kepadamu melalui guru-gurumu. Ingat ini. Jadikan jalanan menjadi sajadahmu, buku dan pulpen menjadi tasbihmu.”
“Oh...” aku tertunduk dalam. Aku memikirkan, berapa kali aku mengabaikan sekolah, berapa kali aku tak ingin menerima pelajaran?? Sebenarnya, di saat itu aku menjauh dari Allah!!
“Iya, Bu. Mulai sekarang: sekolahku, surgaku.” kataku mantap. Bu Siti tersenyum lega.
Langganan:
Postingan (Atom)