Puasa Niz
Berhubung bentar lagi puasa, saya mau posting sebuah cerpen karang-karangannya saya. Buat appetizer, biar nggak kaget lagi kalo tiba-tiba besok udah puasa.
Selamat menikmati!
=============================
Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah.
Puasa-puasa gini kantin sekolah Niz jadi sepi. Anak-anak yang biasanya dengan semangat bergerombol di kantin, bergosip gila-gilaan dan makan-makan memenuhi permintaan pernghuni perut, hilang semua. Termasuk Niz yang kalau menurut catatan ibu kantin hobinya duduk di pojokan gelap sama teman-temannya. Terkadang Niz disitu buat ngintipin tikus yang suka numpang lewat sembarangan, menghilangkan selera makan.
Tapi sekarang beda. Namanya juga bulan puasa, selain puasa makan dan minum juga harus nahan nafsu buat ngomongin anak-anak basket yang bau keringet. Niz lebih memilih nongkrong di kelas, sambil sok rajin baca buku. Buku apa sodara-sodara? Buku komik hasil menjarah di rumah sepupunya. Tapi Niz tahun ini punya niat mulia sodara-sodara. Ia pengen berpuasa secara afdhol, tidak seperti tahun lalu yang emang sih nggak makan nggak minum, tapi ngegosip go terus. Jadi kali ini ia benar-benar tidak mau menuruti hawa nafsunya.
Suasana kelas pas istirahat pun lebih ramai dari biasanya. Penghuni kantin pulang kampung ke pos mereka di kelas masing-masing. Meski obrolan dibatasi, tidak lagi menggosip, kelas tetap saja ramai meskipun setengah penghuninya loyo dan lemas nyaris nggak punya semangat hidup. Yang masih semangat, mencoba melawak dengan memberi tebakan basi dan ngaco.
“Ah, kamu murung aja. Saya jadi ingat tebakan nih. Hoi, apa bedanya pemurung dan pemuluuuung??” Tere dengan semangat memberi tebakan.
Ina, Dewi dan Vita yang ngegerombol sama dia menjawab kompak : “Pemurung adalah orang yang tidak pernah merasa gembira, sedangkan pemulung adalah olang yang tidak pelnah melasa gembila…!”
“Yah, kok tau sih??”
“Iyalah, dari kemarin kan kamu udah ngasih tebakan itu!”
Niz jadi tertarik. Dia menghampiri mereka berempat.
“Coba tebak nih yaa… apa yang kalo pagi di dapur, kalo siang nangkring di pohon mangga?”
“Apaan? Emang ada?” Tanya Dewi.
“Ada dong.”
“Jawabannya apa?” desak Ina penasaran.
“Panci .”
“Kok panci?”
“Ya terserah dong. Panci panci saya kok…” ujar Niz kalem lalu kembali ke tempatnya.
“Wuuu…”
***
Esoknya nggak berubah seperti kemarin. Malah lebih parah, anak-anak sudah nggak ada yang minat main tebak-tebakan. Boro-boro main tebak-tebakan, bisik-bisik sama ketawa aja udah males.
Pada pelajaran kedua, biologi, bu wali kelas membawa anak baru. Namanya Ria. Langsung didudukkan di sebelah Niz,yang kebetulan penghuninya lagi nggak enak badan komplikasi panu.
“Hi! Enjoy your new class, and I am Niz, your new good and pretty friend!” Niz langsung memperkenalkan diri, sok nginggris dikit, padahal pelafalannya masih belepotan.
“Aku, Ria.” Ria dengan kalem memperkenalkan singkat dirinya, kemudian dengan tekun mengikuti pelajaran yang tengah berlangsung.
Pas istirahat, baru deh ketahuan kedok Ria yang sebenarnya. Anaknya nggak bisa diam banget. Berhubung Niz yang duduk disebelahnya, jadi mau nggak mau harus meluangkan telinganya untuk mendengar ocehan Ria. Padahal jangankan minat untuk ngobrol, mendengarkan saja udah males banget.
“Ya ampun, liat orang itu saya jadi ingat sama pacar saya yang dulu…sama-sama cowok soalnya. Dan juga…”
“Ehm, Ria, bisa nggak, nggak ngomongin orang gitu?” Niz menyela pembicaraan Ria. “Saya takut jadi ikut ngomongin orang juga…”
“Oh iya, saya lupa. Ini bulan puasa ya. Makasih udah ingatkan. Kalo kucing boleh kan? Kucing tetangga saya waktu di rumah lama itu, lucu banget. Masa punya empat kaki? Tapi pemiliknya itu lho. Sombong banget. Baru segitu aja udah sombong sampe segitunya. Huh. Trus…”
Ya ampun! Niz lebih memilih untuk kembali menekuni buku biologi yang sempet-sempetnya dibuka dalam waktu istirahat.
Pulang sekolah, Niz pulang naik bus kota bareng Ria, karena setelah ditelusuri menggunakan jasa pet detective, rumah Ria ternyata searah sama rumah Niz.
Di bus, mereka berdua syukur Alhamdulillah, dapat tempat kosong. Jadi bisa duduk manis memandangi pemandangan jalan yang berdebu. Ria kembali mengoceh nggak berhenti-berhenti kecuali kalo kepalanya kejeduk akibat dari ulah supir yang rada ugal-ugalan.
“Oh ya, Niz. Kita ke mall yuk?”
“Ke mall?” ulang Niz. Sebenernya males banget, pengen langsung ke rumah dan leyeh-leyeh sampai waktu berbuka puasa.
“Iya, ke mall. Kemaren saya lihat baju bagus banget. Tenang aja, saya beliin kamu sesuatu deh!”
Wow, bakal dibeliin nih! Sorak Niz dalam hati. Tapi…siang ini panas banget. Enaknya sih di rumah, tidur siang sampai magrib.
“Tapi…”
Dan Ria kembali membujuk Niz, dan akhirnya, entah bagaimana caranya, mereka berdua turun di depan sebuah mall.
Di dalam mall, naluri shopaholic Ria menjadi-jadi. Dengan semangat ’45, anak itu menyeret Niz yang lemes mengobrak abrik toko-toko baju. Seakan nggak puas di satu toko, dia kembali mangajak Niz keluar masuk toko. Nggak dapat yang dia cari, malah kembali ke toko pertama. Niz keki berat. Kemudian, Ria ngajak muter-muterin mall, nyari barang baru.
Setelah kaki Niz rasanya mau patah saking pegelnya menemani Ria belanja, Ria memenuhi janjinya pada Niz. Dia membelikan Niz beberapa aksesori rambut dan sebuah topi keren.
“Oh my god, Niz. Kamu lemes banget. Ayok kita makan dulu. Saya traktir,”
“Tapi, saya kan puasa!”
“Nggak. Kamu kelihatan lemes, saya takut kamu malah jadi sakit. Ayolah.” Ria terus membujuk.
Niz mikir. Dia emang udah lemes dan nyaris dehidrasi. Terus dia juga membayangkan suasana buka puasa di rumahnya. Bapaknya kerja, kalo buka puasa di luar. Ibunya juga orang sibuk. Sedang adiknya, si Lili suka nggak peduli sama Niz.
Sedangkan Ria terus membujuk sampai bibirnya kering. Dan akhirnya Niz terbujuk rayuan pulau kelapa si Ria, dan sekarang harus tabah kembali diseret Ria masuk ke food court.
***
Sampai di rumah sudah sore. Bentar lagi azan magrib menggema.
“Niz, kamu dari mana saja? Itu ibu udah bikinin kamu pudding mangga. Kata Lili, kamu paling suka makan mangga.” sambut ibunya di dapur.
“Yoyoy, Niz. Tadi Lili ke supermarket sama ibu, Lili beliin cokelat tuh, di meja.” tambah Lili.
Niz melirik ke meja makan. Benar saja, sebatang cokelat Cadbury kesukaannya bertengger manis disitu.
Tak lama, bapaknya datang. Membawa ayam goreng Kentucky, lagi-lagi kesukaan Niz.
“Lho, bapak tumben pulang cepat?”
“Sekali-sekali nggak apa-apa dong. Pengen buka puasa di rumah,” kata bapak. “Kalian semua masih puasa kan?”
“Masih dong!” sambar Lili cepat.
Sedangkan Niz tentu saja nggak ngaku kalo puasanya batal. Ya Allah, nyesel banget dia hari ini.
Azan magrib berkumandang. Tapi Niz nggak menyerbu meja makan dengan semangat seperti Lili. Dia mengeluarkan hapenya, menelpon Ria.
“Sialan kamu, Ria!!!”
Lalu cepat-cepat dimatikan hapenya.
Tampilkan postingan dengan label kabualan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kabualan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 Agustus 2010
Senin, 02 Agustus 2010
perkenalan sama guru baru
Hmm, guru baru, apalagi yang masih muda, seger dan baru lulus kuliah, biasanya nggak galak-galak amat dan masih malu-malu kalo ngajar. Seperti juga guru baru yang nyelonong masuk ke kelas Niz.
Nama gurunya, Renny Larasati. Ngajar matematika. Alhamdulillah, batin Niz. Guru matematikanya kayaknya nggak galak deh. Orangnya asli jawa, berperawakan kecil (teman-teman sekelas rata-rata lebih tinggi dari si guru baru), suaranya pelan dan hanya disetel pada volume terendah sepertinya. Jadi Niz dan kawan-kawan harus pasang telinga baik-baik untuk dengar perkenalan darinya. Namanya juga hari pertama, jadi diisi dengan berbasa yang sangat basi, tidak langsung diisi dengan hitung-hitungan menyengsarakan otak.
Tapi sia-sia usaha Niz dengan pasang telinga baik-baik. Suara guru barunya ini tertelan sama keriuhan yang diciptakan dengan penuh kesadaran oleh teman-teman dari spesies cowok. Nggak ngehargain amat.
“Hmm, ada yang mau ditanya lagi?” Bu Renny mempersilahkan dengan hormat murid-muridnya untuk ngorek-ngorek lebih jauh.
“Status! Status! Single apa single parent!” teriak yang di pojok. Ah, mentang-mentang guru baru jadi seenaknya aja pertanyaannya. Coba kalo yang masuk guru senior bertampang dingin. Wiw. Beku.
“Nomor hape!”
“Nomor sepatu?”
“Alamat!”
“Status…” muka si guru baru memerah. “Single dong. Ada yang tertarik?”
“Wuuu…!!” seru yang cowok keki.
“Berlebihan. Nomor hape, ah itu terlalu privasi. Ga usah ya. Ada yang kecewa? Kalo nomor sepatu…emang ada yang mau ngebeliin saya sepatu? Alamat, yang di jawa apa yang di Sorong?”
“Yang di amerika deh pastinya.” Ujar yang di bagian tengah sedikit keki.
“Kalo yang di Sorong, tuh di depan situ.”
“Yang di jawa?” Tanya cowok yang mukanya jawa banget. Joko namanya.
“Di Klaten. Mau main kesana?”
Bu guru itu langsung ngomong ngomong dan ngomong. Mengenai kuliahnya yang biasa aja, sampai cita-cita masa kecilnya yang tertunda. Jadi astronot, katanya. Mengenai dirinya yang baru kali ini menginjak tanah Sorong, tambah kerinduan akan kampung halaman. Semuanya deh. Tapi cerita itu lagi-lagi tertelan sama keributan dari makhluk-makhluk cowok yang malah asyik ngerumpi kesana kemari layaknya ibu-ibu PKK lagi arisan.*What? Ibu-ibu?*
Kemudian, dengan niat tulus ikhlas pengen tau lebih jauh tentang murid-muridnya yang manis-manis ini, bu Renny mulai mengabsen dan nanya darimana asalnya.
“Aji Wahyu Setianto?”
Yang punya nama angkat tangan. Untung nggak angkat barbell. Kan berat.
“Asalnya?”
“Dari…dari…Jawa bu!”
“Oh… lanjut ya. And..and…?? gimana nih bacanya?” Bu Renny nanya sama yang duduk di depan.
“Bambang, bacanya bu!” sahut yang ditanya ngasal.
“Andre bu!” sahut yang dibelakang, empunya nama.
“Oh iyah, maaf. Andrew…euh, Putt..ti..leihalat?” Bu Renny tampak kewalahan dengan namanya, yang sebenernya sih nggak susah-susah amat dibaca. Tapi yah…namanya juga orang yang baru nginjak tanah timur. Nama-nama marga seperti itu jarang ditemui di tempat asalnya.
Kemudian lanjut terus…
“Soni P. Butar-Butar?” Bu Renny balik badan sambil nutup mulutnya pake daftar absen. Mau ngakak sepuas-puasnya. Wah. Penghinaan.
Usai membaca daftar absen dengan penuh perjuangan, maklum, teman-teman Niz namanya ajaib-ajaib dan panjang-panjang, bu Renny kemudian menyuruh semua siswa mengeluarkan selembar kertas kosong. Ulangan? Ih mana mungkin. Belajar aja belum. Masa iya ulangan tentang nama-nama siswa? Nggak ada hubungannya dengan matematika…tapi berhubungan dengan fisika. Halah.
“Oke. Diantara kalian, siapa yang suka matematika?”
Nggak ada yang angkat tangan.
“Saya suka kok. Tapi kalo nggak ada gurunya,” ujar Niz.
“Kalo yang nggak suka?”
Nggak ada yang angkat tangan. Pada nggak mau ngaku.
“Baiklaaah. Kalo gitu, tuliskan di kertas kosong, pendapat kalian tentang matematika, juga saran kedepannya gimana. Ini bisa buat referensi saya dalam mengajar.”
Niz yang hobi ngarang dengan pensil yang sehitam arang, sampai nggak sadar tangannya dikitik-kitik sama semut rang-rang, kesenengan. Selembar kertas diisiinya penuh dengan kata-kata dan bukan gambar apalagi animasi. Iyalah. Sampai-sampai diceritakan juga pengalaman nggak mengenakkan sama anjing tetangga di mulut gang. Hii, nggak nyambung. Tapi biarkanlah nggak nyambung, seenggaknya Niz bahagia dengan cara itu. Halah.
Lalu saat tiba masanya kertas-kertas itu dikumpul, Bu Renny segera berkeliling kelas, merebut paksa kertas-kertas dari tangan murid. Sebagian menyerahkan dengan tulus ikhlas, sisanya masih berusaha buat nutupin.
Niz menyerahkan dengan rela tulisan tangannya yang awut-awutan. Meski hobi ngarang, tapi Niz nggak pernah bisa bikin tulisannya rada bagusan dikit. Bahkan cakar ayam pun masih jauh lebih jelek dari tulisannya. Mana tulisannya kecil-kecil dan rapat, dan hampir seluruh kertas ditulisinya dengan semangat ’45.
“Ya ampun. Panjang sekali. Seperti kereta api mainan anak-anak,” gumam Bu Renny. “kamu cocok jadi penulis…kwitansi.”
Niz nyengir di bangkunya.
Nama gurunya, Renny Larasati. Ngajar matematika. Alhamdulillah, batin Niz. Guru matematikanya kayaknya nggak galak deh. Orangnya asli jawa, berperawakan kecil (teman-teman sekelas rata-rata lebih tinggi dari si guru baru), suaranya pelan dan hanya disetel pada volume terendah sepertinya. Jadi Niz dan kawan-kawan harus pasang telinga baik-baik untuk dengar perkenalan darinya. Namanya juga hari pertama, jadi diisi dengan berbasa yang sangat basi, tidak langsung diisi dengan hitung-hitungan menyengsarakan otak.
Tapi sia-sia usaha Niz dengan pasang telinga baik-baik. Suara guru barunya ini tertelan sama keriuhan yang diciptakan dengan penuh kesadaran oleh teman-teman dari spesies cowok. Nggak ngehargain amat.
“Hmm, ada yang mau ditanya lagi?” Bu Renny mempersilahkan dengan hormat murid-muridnya untuk ngorek-ngorek lebih jauh.
“Status! Status! Single apa single parent!” teriak yang di pojok. Ah, mentang-mentang guru baru jadi seenaknya aja pertanyaannya. Coba kalo yang masuk guru senior bertampang dingin. Wiw. Beku.
“Nomor hape!”
“Nomor sepatu?”
“Alamat!”
“Status…” muka si guru baru memerah. “Single dong. Ada yang tertarik?”
“Wuuu…!!” seru yang cowok keki.
“Berlebihan. Nomor hape, ah itu terlalu privasi. Ga usah ya. Ada yang kecewa? Kalo nomor sepatu…emang ada yang mau ngebeliin saya sepatu? Alamat, yang di jawa apa yang di Sorong?”
“Yang di amerika deh pastinya.” Ujar yang di bagian tengah sedikit keki.
“Kalo yang di Sorong, tuh di depan situ.”
“Yang di jawa?” Tanya cowok yang mukanya jawa banget. Joko namanya.
“Di Klaten. Mau main kesana?”
Bu guru itu langsung ngomong ngomong dan ngomong. Mengenai kuliahnya yang biasa aja, sampai cita-cita masa kecilnya yang tertunda. Jadi astronot, katanya. Mengenai dirinya yang baru kali ini menginjak tanah Sorong, tambah kerinduan akan kampung halaman. Semuanya deh. Tapi cerita itu lagi-lagi tertelan sama keributan dari makhluk-makhluk cowok yang malah asyik ngerumpi kesana kemari layaknya ibu-ibu PKK lagi arisan.*What? Ibu-ibu?*
Kemudian, dengan niat tulus ikhlas pengen tau lebih jauh tentang murid-muridnya yang manis-manis ini, bu Renny mulai mengabsen dan nanya darimana asalnya.
“Aji Wahyu Setianto?”
Yang punya nama angkat tangan. Untung nggak angkat barbell. Kan berat.
“Asalnya?”
“Dari…dari…Jawa bu!”
“Oh… lanjut ya. And..and…?? gimana nih bacanya?” Bu Renny nanya sama yang duduk di depan.
“Bambang, bacanya bu!” sahut yang ditanya ngasal.
“Andre bu!” sahut yang dibelakang, empunya nama.
“Oh iyah, maaf. Andrew…euh, Putt..ti..leihalat?” Bu Renny tampak kewalahan dengan namanya, yang sebenernya sih nggak susah-susah amat dibaca. Tapi yah…namanya juga orang yang baru nginjak tanah timur. Nama-nama marga seperti itu jarang ditemui di tempat asalnya.
Kemudian lanjut terus…
“Soni P. Butar-Butar?” Bu Renny balik badan sambil nutup mulutnya pake daftar absen. Mau ngakak sepuas-puasnya. Wah. Penghinaan.
Usai membaca daftar absen dengan penuh perjuangan, maklum, teman-teman Niz namanya ajaib-ajaib dan panjang-panjang, bu Renny kemudian menyuruh semua siswa mengeluarkan selembar kertas kosong. Ulangan? Ih mana mungkin. Belajar aja belum. Masa iya ulangan tentang nama-nama siswa? Nggak ada hubungannya dengan matematika…tapi berhubungan dengan fisika. Halah.
“Oke. Diantara kalian, siapa yang suka matematika?”
Nggak ada yang angkat tangan.
“Saya suka kok. Tapi kalo nggak ada gurunya,” ujar Niz.
“Kalo yang nggak suka?”
Nggak ada yang angkat tangan. Pada nggak mau ngaku.
“Baiklaaah. Kalo gitu, tuliskan di kertas kosong, pendapat kalian tentang matematika, juga saran kedepannya gimana. Ini bisa buat referensi saya dalam mengajar.”
Niz yang hobi ngarang dengan pensil yang sehitam arang, sampai nggak sadar tangannya dikitik-kitik sama semut rang-rang, kesenengan. Selembar kertas diisiinya penuh dengan kata-kata dan bukan gambar apalagi animasi. Iyalah. Sampai-sampai diceritakan juga pengalaman nggak mengenakkan sama anjing tetangga di mulut gang. Hii, nggak nyambung. Tapi biarkanlah nggak nyambung, seenggaknya Niz bahagia dengan cara itu. Halah.
Lalu saat tiba masanya kertas-kertas itu dikumpul, Bu Renny segera berkeliling kelas, merebut paksa kertas-kertas dari tangan murid. Sebagian menyerahkan dengan tulus ikhlas, sisanya masih berusaha buat nutupin.
Niz menyerahkan dengan rela tulisan tangannya yang awut-awutan. Meski hobi ngarang, tapi Niz nggak pernah bisa bikin tulisannya rada bagusan dikit. Bahkan cakar ayam pun masih jauh lebih jelek dari tulisannya. Mana tulisannya kecil-kecil dan rapat, dan hampir seluruh kertas ditulisinya dengan semangat ’45.
“Ya ampun. Panjang sekali. Seperti kereta api mainan anak-anak,” gumam Bu Renny. “kamu cocok jadi penulis…kwitansi.”
Niz nyengir di bangkunya.
dokumen rahasia CIA
Sebuah dokumen berklasifikasi sangat rahasia (TOP SECRET) bocor ke tangan wartawan. Dokumen ini adalah laporan CIA kepada Pentagon yang sebenarnya akan diteruskan ke Gedung Putih.
Menurut dokumen tersebut, setelah Irak, Indonesia akan menjadi sasaran berikutnya. Tapi, intel-intel CIA yang lebih dahulu diterjunkan ke Indonesia, menyimpulkan bahwa jika diteruskan maka perang tersebut akan menjadi sangat mahal biayanya dan dipastikan AS akan menderita banyak kerugian.
Ini isi dokumen yang telah diterjemahkan unofficial ke dalam bahasa Indonesia :
Kepada Yth.
Kepala Staf Gabungan Jenderal Richard Myers
Tembusan : Direktur CIA
Rencana penyerangan ke Indonesia sebaiknya dipertimbangkan lagi mengingat mahalnya biaya yang akan timbul dari peperangan tersebut. Berikut data-datanya:
Begitu memasuki perairan, armada ketujuh kita akan dihadang pihak Bea Cukai karena membawa masuk senjata api dan peralatan tanpa surat izin dari pemerintah RI. Ini berarti kita harus menyediakan “uang damai”. Coba hitung berapa besarnya jika peralatan yang dibawa sedemikian banyak.
Kemudian bila kita mendirikan base camp militer, bisa ditebak di sekitar base camp pasti akan banyak dikelilingi tukang bakso, tukang es kelapa, lapak VCD bajakan, sampai obral celana dalam Rp. 10.000 dapat 3. Belum terhitung jika pedagang komidi puter juga ikut mangkal di sekitar base camp.
Kemudian kendaraan tempur serta tank-tank lapis baja yang diparkir dekat base camp akan dikenakan retribusi parkir oleh petugas dari dinas perparkiran daerah maupun preman-preman sekitar. Jika dua jam pertama dikenakan Rp. 10.000 (tariff untuk orang bule), berapa yang harus dibayar pemerintah AS jika kendaraan harus parkir sebulan atau setahun lebih seperti di Irak sekarang ini.
Belum lagi pengusaha parkir swasta yang bisa melobi Gubernur Fauzi Bowo untuk menaikkan tariff parkir. Lobi itu sangat mulus karena salah satu komisaris di sebuah perusahan parkir terbesar di Jakarta itu adalah mantan pejabat tinggi.
Belum lagi sepanjang jalan menuju base camp kita harus menghadapi para “Pak Ogah” yang berlagak mengatur jalan sambil memungut biaya dari kendaraan yang memutar. Bisa dibayangkan berapa recehan yang harus disiapkan jika harus melakukan operasi tempur menuju pusat-pusat musuh seperti Cilangkap. Dari Tanjung Priok (pelabuhan tempat kapal induk merapat dan lokasi pasukan mendarat) ke Cilangkap saja ada beberapa pertigaan, perempatan dan putaran.
Suatu kerepotan besar juka rombongan pasukan harus berkonvoi. Karena konvoi yang berjalan lambat pasti akan dihampiri para pengamen dan anak-anak jalanan. Ini berarti harus mengeluarkan recehan lagi.
Belum lagi jika di jalan bertemu polisi bokek, udah pasti kena semprit karena konvoi tanpa izin terlebih dahulu. Bayangkan berapa uang damai yang harus dikeluarkan untuk polantas-polantas itu.
Itu baru polentas, Pak Myers. Belum petugas DLLAJ. Anda harus melihat sendiri bagaimana mereka beraksi. Kendaraan-kendaraan dan tank-tank itu kan belum dikir. Itu pertanda buruk. Setiap kali kir, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membayar yang resmi dan tidak resmi. Belum lagi kalau mau menyerbu KODAM di daerah lain. Kita harus melalui jembatan timbang milik DLLAJ. Siapkan saja uang pelican yang lebih banyak.
Di base camp militer, tentara AS sudah pasti tidak bisa tidur nyenyak, karena banyak nyamuk akibat sangat tidak higienisnya lingkungan sekitar. Ini bisa dibasmi dengan penyemprotan dari dinas kesehatan. Lagi-lagi harus menyiapkan amplop untuk mereka.
Tentara AS juga nggak bisa jauh-jauh dari peralatan perangnya, karena di sekitar base camp sudah mengintai pedagang besi loakan yang siap mempreteli peralatan perang canggih yang kita bawa. Kurang waspada sedikit saja, tank Abrams kebanggaan kita bakal siap dikiloin.
Belum lagi para pencuri kendaraan bermotor yang sudah siap beraksi dengan kunci T-nya bakal merebut jip-jip perang kita yang kalau didempul dan cat ulang bisa dijual ke pasar gelap atau pasar spare part hasil curian ranmor di Cinangka.
Peralatan telekomunikasi kita yang menjadi alat vital dalam pertempuran, juga harus dijaga ketat, karena bandit kapak merah sudah mengincar peralatan itu.
Di samping itu juga ada aturan wajib lapor 1 x 24 jam, dan harus izin RT setempat. Belum RW dan kelurahan. Berapa banyak meja yang harus dilalui dengan amplopan.
Membayangkan ini semua, kami mewakili intel CIA di lapangan sepakat untuk meninjau ulang rencana penyerangan ke Indonesia.
Menurut dokumen tersebut, setelah Irak, Indonesia akan menjadi sasaran berikutnya. Tapi, intel-intel CIA yang lebih dahulu diterjunkan ke Indonesia, menyimpulkan bahwa jika diteruskan maka perang tersebut akan menjadi sangat mahal biayanya dan dipastikan AS akan menderita banyak kerugian.
Ini isi dokumen yang telah diterjemahkan unofficial ke dalam bahasa Indonesia :
Kepada Yth.
Kepala Staf Gabungan Jenderal Richard Myers
Tembusan : Direktur CIA
Rencana penyerangan ke Indonesia sebaiknya dipertimbangkan lagi mengingat mahalnya biaya yang akan timbul dari peperangan tersebut. Berikut data-datanya:
Begitu memasuki perairan, armada ketujuh kita akan dihadang pihak Bea Cukai karena membawa masuk senjata api dan peralatan tanpa surat izin dari pemerintah RI. Ini berarti kita harus menyediakan “uang damai”. Coba hitung berapa besarnya jika peralatan yang dibawa sedemikian banyak.
Kemudian bila kita mendirikan base camp militer, bisa ditebak di sekitar base camp pasti akan banyak dikelilingi tukang bakso, tukang es kelapa, lapak VCD bajakan, sampai obral celana dalam Rp. 10.000 dapat 3. Belum terhitung jika pedagang komidi puter juga ikut mangkal di sekitar base camp.
Kemudian kendaraan tempur serta tank-tank lapis baja yang diparkir dekat base camp akan dikenakan retribusi parkir oleh petugas dari dinas perparkiran daerah maupun preman-preman sekitar. Jika dua jam pertama dikenakan Rp. 10.000 (tariff untuk orang bule), berapa yang harus dibayar pemerintah AS jika kendaraan harus parkir sebulan atau setahun lebih seperti di Irak sekarang ini.
Belum lagi pengusaha parkir swasta yang bisa melobi Gubernur Fauzi Bowo untuk menaikkan tariff parkir. Lobi itu sangat mulus karena salah satu komisaris di sebuah perusahan parkir terbesar di Jakarta itu adalah mantan pejabat tinggi.
Belum lagi sepanjang jalan menuju base camp kita harus menghadapi para “Pak Ogah” yang berlagak mengatur jalan sambil memungut biaya dari kendaraan yang memutar. Bisa dibayangkan berapa recehan yang harus disiapkan jika harus melakukan operasi tempur menuju pusat-pusat musuh seperti Cilangkap. Dari Tanjung Priok (pelabuhan tempat kapal induk merapat dan lokasi pasukan mendarat) ke Cilangkap saja ada beberapa pertigaan, perempatan dan putaran.
Suatu kerepotan besar juka rombongan pasukan harus berkonvoi. Karena konvoi yang berjalan lambat pasti akan dihampiri para pengamen dan anak-anak jalanan. Ini berarti harus mengeluarkan recehan lagi.
Belum lagi jika di jalan bertemu polisi bokek, udah pasti kena semprit karena konvoi tanpa izin terlebih dahulu. Bayangkan berapa uang damai yang harus dikeluarkan untuk polantas-polantas itu.
Itu baru polentas, Pak Myers. Belum petugas DLLAJ. Anda harus melihat sendiri bagaimana mereka beraksi. Kendaraan-kendaraan dan tank-tank itu kan belum dikir. Itu pertanda buruk. Setiap kali kir, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membayar yang resmi dan tidak resmi. Belum lagi kalau mau menyerbu KODAM di daerah lain. Kita harus melalui jembatan timbang milik DLLAJ. Siapkan saja uang pelican yang lebih banyak.
Di base camp militer, tentara AS sudah pasti tidak bisa tidur nyenyak, karena banyak nyamuk akibat sangat tidak higienisnya lingkungan sekitar. Ini bisa dibasmi dengan penyemprotan dari dinas kesehatan. Lagi-lagi harus menyiapkan amplop untuk mereka.
Tentara AS juga nggak bisa jauh-jauh dari peralatan perangnya, karena di sekitar base camp sudah mengintai pedagang besi loakan yang siap mempreteli peralatan perang canggih yang kita bawa. Kurang waspada sedikit saja, tank Abrams kebanggaan kita bakal siap dikiloin.
Belum lagi para pencuri kendaraan bermotor yang sudah siap beraksi dengan kunci T-nya bakal merebut jip-jip perang kita yang kalau didempul dan cat ulang bisa dijual ke pasar gelap atau pasar spare part hasil curian ranmor di Cinangka.
Peralatan telekomunikasi kita yang menjadi alat vital dalam pertempuran, juga harus dijaga ketat, karena bandit kapak merah sudah mengincar peralatan itu.
Di samping itu juga ada aturan wajib lapor 1 x 24 jam, dan harus izin RT setempat. Belum RW dan kelurahan. Berapa banyak meja yang harus dilalui dengan amplopan.
Membayangkan ini semua, kami mewakili intel CIA di lapangan sepakat untuk meninjau ulang rencana penyerangan ke Indonesia.
tetangga belakang
Niz, kalau di sekolah selalu jadi primadona, apalagi kalo pas jam pelajaran sedang berlangsung.
Bukannya apa, tapi Niz ini ibarat kata adalah toko stasioneri berjalan, bisa ngomong dan bisa kentut. Macam pensil, di tasnya selalu ada rupa-rupa pensil. Pensil warna, pensil ujian, pensil yang belum diraut, pensil yang udah tumpul, pensil patah, sampai pensil bulukan yang panjangnya tinggal sesenti. Soal ini, Niz sempat memberi komentar suatu ketika.
“Itu pensil kenangan. Pensil pertama yang saya colong,”
Selain pensil, kalau kalian butuh pena, penghapus, tipeks, rautan, penggaris dan teman sejawatnya, datanglah pada Niz. Dengan muka masam pasti dia akan meminjamkan kok. Hehehe. Nggak kok. Niz dengan senang hati akan meminjamkan, tentu dengan wanti-wanti seperti ini,
“Jangan sampai hilang.”
“Jangan pinjamkan ke orang lain.”
“Jangan sampe lupa kembaliin. Ntar kebawa,”
“Jangan dipake!”
Nah kalau ditanya siapa yang paling sering bikin Niz kesel tentang peminjaman alat tulis ini, jawabannya adalah tetangga belakangnya, siapa lagi kalau bukan Yeyen. Entah sudah berapa pensil dan alat tulis lain yang ilang gara-gara ulah anak ini. Niz jadi kesel banget. Mana kerjaannya tiap menit cuma nusuk-nusuk pinggang Niz, kadang pake jangka malah, buat pinjam macem-macem. Tapi lebih sering nggak dikembaliin. Nggak tau dibawa pulang buat dijual lagi, atau ternyata dia memang kolektor benda curian. Hii.
Seperti kali ini. Niz yang tengah asyik meratiin semut yang merayap di dinding pas di sebelahnya ketika teman-temannya yang lain sibuk dengan angka-angka matematika, dikagetkan dengan tusukan pensil yang diraut tajem banget nggak berperikemanusiaan dari Yeyen.
“Aow!”
“Niz, pinjam penghapus dong!” Tuh kan! Yeyen dengan muka nggak bersalahnya meminta penghapus.
Niz bersungut-sungut sambil membuka tempat pensilnya yang gede banget, mengambil penghapus dan melemparnya ke belakang. Alhamdulillah, jatuh tepat di kepala Randy yang lagi pulas tertidur, yang posisinya di belakang Yeyen. Wah. Pembalasan nih si Niz.
“Ah, ngga ikhlas kamu Niz…” sungut Yeyen.
Gimana bisa ikhlas, coba! Batin Niz keki.
Benar saja, sampai jam pulang, penghapus Niz yang malang tidak kembali ke tangan sang empunya. Nyasar entah kemana.
Esoknya, Niz dengan langkah kaki yang digagah-gagahkan berjalan melenggang memasuki kelasnya. Iyalah, masa kelas adeknya, si Lili? Hihihi. Ada apa gerangan?
“Woy, Niz! Mau jadi polwan ya? Jalan kamu gagah banget!” seru Joko.
“Nggak kok. Mau jadi polisi hutan,” jawab Niz.
“Hihihihi,” kikik si item Joko.
Jam pertama, bahasa Indonesia.
Baru setengah pelajaran berlangsung, pinggang Niz kembali ditusuk-tusuk sama Yeyen.
“Niz, pinjam pena dong!”
“Lihat nih,” ujar Niz tenang sambil menunjuk bagian belakang sandaran kursinya, tepat di depan muka Yeyen.
Yeyen bengong. Disitu tertempel tulisan besar-besar,
“HOBI PINJAM NGGAK HOBI KEMBALIIN, SEJUTA TOPAN BADAI!!!”
Bukannya apa, tapi Niz ini ibarat kata adalah toko stasioneri berjalan, bisa ngomong dan bisa kentut. Macam pensil, di tasnya selalu ada rupa-rupa pensil. Pensil warna, pensil ujian, pensil yang belum diraut, pensil yang udah tumpul, pensil patah, sampai pensil bulukan yang panjangnya tinggal sesenti. Soal ini, Niz sempat memberi komentar suatu ketika.
“Itu pensil kenangan. Pensil pertama yang saya colong,”
Selain pensil, kalau kalian butuh pena, penghapus, tipeks, rautan, penggaris dan teman sejawatnya, datanglah pada Niz. Dengan muka masam pasti dia akan meminjamkan kok. Hehehe. Nggak kok. Niz dengan senang hati akan meminjamkan, tentu dengan wanti-wanti seperti ini,
“Jangan sampai hilang.”
“Jangan pinjamkan ke orang lain.”
“Jangan sampe lupa kembaliin. Ntar kebawa,”
“Jangan dipake!”
Nah kalau ditanya siapa yang paling sering bikin Niz kesel tentang peminjaman alat tulis ini, jawabannya adalah tetangga belakangnya, siapa lagi kalau bukan Yeyen. Entah sudah berapa pensil dan alat tulis lain yang ilang gara-gara ulah anak ini. Niz jadi kesel banget. Mana kerjaannya tiap menit cuma nusuk-nusuk pinggang Niz, kadang pake jangka malah, buat pinjam macem-macem. Tapi lebih sering nggak dikembaliin. Nggak tau dibawa pulang buat dijual lagi, atau ternyata dia memang kolektor benda curian. Hii.
Seperti kali ini. Niz yang tengah asyik meratiin semut yang merayap di dinding pas di sebelahnya ketika teman-temannya yang lain sibuk dengan angka-angka matematika, dikagetkan dengan tusukan pensil yang diraut tajem banget nggak berperikemanusiaan dari Yeyen.
“Aow!”
“Niz, pinjam penghapus dong!” Tuh kan! Yeyen dengan muka nggak bersalahnya meminta penghapus.
Niz bersungut-sungut sambil membuka tempat pensilnya yang gede banget, mengambil penghapus dan melemparnya ke belakang. Alhamdulillah, jatuh tepat di kepala Randy yang lagi pulas tertidur, yang posisinya di belakang Yeyen. Wah. Pembalasan nih si Niz.
“Ah, ngga ikhlas kamu Niz…” sungut Yeyen.
Gimana bisa ikhlas, coba! Batin Niz keki.
Benar saja, sampai jam pulang, penghapus Niz yang malang tidak kembali ke tangan sang empunya. Nyasar entah kemana.
Esoknya, Niz dengan langkah kaki yang digagah-gagahkan berjalan melenggang memasuki kelasnya. Iyalah, masa kelas adeknya, si Lili? Hihihi. Ada apa gerangan?
“Woy, Niz! Mau jadi polwan ya? Jalan kamu gagah banget!” seru Joko.
“Nggak kok. Mau jadi polisi hutan,” jawab Niz.
“Hihihihi,” kikik si item Joko.
Jam pertama, bahasa Indonesia.
Baru setengah pelajaran berlangsung, pinggang Niz kembali ditusuk-tusuk sama Yeyen.
“Niz, pinjam pena dong!”
“Lihat nih,” ujar Niz tenang sambil menunjuk bagian belakang sandaran kursinya, tepat di depan muka Yeyen.
Yeyen bengong. Disitu tertempel tulisan besar-besar,
“HOBI PINJAM NGGAK HOBI KEMBALIIN, SEJUTA TOPAN BADAI!!!”
Langganan:
Postingan (Atom)